Kelahiran Fakultas Ilmu Budaya di tengah-tengah Pulau Dewata/Bali ini didorong oleh berbagai faktor.  Faktor-faktor itu antara lain:


  1. Fakta bahwa Bali ditinjau dari segi warisan budaya dan agama memiliki keunikan tersendiri;
  2. Bali sejak dahulu telah dikenal sebagai tempat yang menyimpan dan memelihara apa yang di tempat lain sudah tidak ada lagi, dengan demikian oleh Stutterheim, Bali  disebut sebagai “museum hidup;”
  3. Adanya kemauan masyarakat Bali yang menggelora, yang ingin menunjukkan jati dirinya, kepribadiannya, di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional;
  4. Adanya kesadaran para pendiri untuk mendirikan Yayasan Fakultas-Fakultas Nusa Tenggara, yang diharapkan dapat bertindak sebagai pengambil prakarsa, dalam kaitannya dengan daerah Bali kemudian diprakarsai dengan mendahulukan pendirian Fakultas Ilmu Budaya;
  5. Adanya kondisi faktual seperti di atas, membangkitkan cita-cita didirikannya Fakultas Ilmu Budaya ini, yang merupakan cikal bakal dari Universitas Udayana.

 


Cita-cita pendirian Fakultas Ilmu Budaya dapat ditelusuri pada pidato yang disampaikan oleh tokoh-tokoh berikut: (1) Presiden I Republik Indonesia, Dr. Ir. Soekarno; (2) Pidato Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Prof. DR. Prijono yang disampaikan pada acara peresmian dan pembukaan Fakultas Sastra Udayana pada tahun 1958, dan (3) ahli bahasa dan sastra Jawa Kuna, Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka. Intisari dari ketiga pidato tersebut adalah sebagai berikut :


  1. Fakultas Ilmu Budaya diharapkan kelak menjadi pewahyu bagi rakyat, dengan menggali kecintaan kepada tanah air untuk hari kemudian, dan pewahyu bagi rakyat yang sedang berjuang untuk membebaskan diri dari semua bentuk kemiskinan (Presiden RI, Dr. Ir. Soekarno).
  2. Fakultas Ilmu Budaya kita anggap sebagai kunci wasiat untuk membuka secara ilmiah perbendaharaan Bali, sebagai pulau yang terkenal, sebagai peti tempat penyimpanan perbendaharaan sastra dan budaya lama (Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka).
  3. Fakultas Ilmu Budaya diharapkan dapat berperan “Kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde sukanikang rat”; artinya, “Laksana api di tempat persajian menyala dan membawa kebahagiaan dunia” (K. Prof. DR. Prijono, dikutip dari Kakawin Ramayana).

 


Cikal bakal Unud adalah Fakultas Sastra Udayana cabang Universitas Airlangga yang diresmikan oleh P. J. M. Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, dibuka oleh J. M. Menteri P.P dan K. Prof. DR. Prijono pada tanggal 29 September 1958 sebagaimana tertulis pada Prasasti di Fakultas Sastra Jalan Nias Denpasar. Universitas Udayana secara sah berdiri pada tanggal 17 Agustus 1962 dan merupakan perguruan tinggi negeri tertua di daerah Provinsi Bali. Sebelumnya, sejak tanggal 29 September 1958 di Bali sudah berdiri sebuah Fakultas yang bernama Fakultas Sastra Udayana sebagai cabang dari Universitas Airlangga Surabaya. Fakultas Sastra Udayana inilah yang merupakan embrio dari pada berdirinya Universitas Udayana. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri PTIP No.104/1962, tanggal 9 Agustus 1962, Universitas Udayana secara syah berdiri sejak tanggal 17 Agustus 1962. Tetapi oleh karena hari lahir Universitas Udayana jatuh bersamaan dengan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia maka perayaan Hari Ulang Tahun Universitas Udayana dialihkan menjadi tanggal 29 September dengan mengambil tanggal peresmian Fakultas Sastra yang telah berdiri sejak tahun 1958.


Fakultas Ilmu Budaya berdiri atas prakarsa Yayasan Fakultas-Fakultas Nusa Tenggara, yang diketahui oleh Letkol Minggoe dan Wakil Ketua I, Gubernur Sunda Kecil, Teuku Mochamad Daoedsjah.  Yayasan ini bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang ilmu sastra, seperti Dr. R. Goris, Dr. Ida Bagus Mantra dan I Gusti Ketut Ranuh.  Para tokoh tersebut, selain mempersiapkan hal yang berkenaan dengan segi fisik, bergerak juga sebagai penghubung, untuk mendapatkan orang-orang yang akan dijadikan dosen (tenaga pengajar), terutama orang yang akan dijadikan pimpinan pada Fakultas yang akan dibentuk. Orang yang berhasil dihubungi, yang akan dijadikan pimpinan adalah Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka, yang kala itu menjadi Dekan Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.  Tenaga-tenaga pengajar yang berhasil dihubungi, terutama tenaga-tenaga yang telah bergelar doktor dan telah memperoleh nama internasional karena prestasi ilmiahnya pada waktu itu, adalah (1) Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka, (2) Dr. R. Goris, (3) Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, dan (4) Prof. Dr. Swami Ajarananda.


Setelah rampungnya segala persiapan maka ditetapkanlah hari pembukaannya, yaitu pada tanggal 29 September 1958.  Nama yang diberikan adalah Fakultas Sastra Udayana. Namun demikian, rencana nama semula adalah Udayana Fakultas Ilmu Budaya.  Kata Budaya kemudian dihilangkan atas anjuran K. Prof. DR. Prijono, karena dengan kata Sastra saja sudah terkandung arti Budaya.  Jadi, istilah ‘sastra’ mengandung arti yang sangat luas.


Pada awal berdirinya (September – Desember 1958), Fakultas Sastra Udayana diasuh oleh Yayasan Fakultas-Fakultas Nusa Tenggara, namun mulai tanggal 1 Januari 1959 secara resmi menjadi bagian Universitas Airlangga.  Sejak saat itu Fakultas Sastra Udayana berubah nama menjadi Fakultas Sastra. Dalam perkembangan berikut, berdasarkan SK Rektor No. 62/UN14/HK/2013 tanggal 2 Mei 2013, nama Fakultas Sastra berganti lagi menjadi Fakultas Sastra dan Budaya. Kemudian berdasarkan SK Rektor No. 309/UN.14/HK/2016 tanggal 27 Juni 2016 nama Fakultas Sastra dan Budaya kembali berganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya.


Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Udayana Nomor 592/UN14/PP.03.01/2016, tentang Penetapan Ruang Lingkup Program Studi Kategeri Mono Disiplin dan Multi Disiplin Untuk Pengelolaan Program Magister Dan Doktor, maka pada tanggal 23 Desember 2016 Program S2 dan S3 Ilmu Linguistik dan Kajian Budaya secara resmi berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya. Saat ini Fakultas Ilmu Budaya memiliki 12 Program Studi, sebagai berikut :



No

Program Studi

Strata Akademik

1

Sastra Indonesia

S1

2

Sastra Bali

S1

3

Sastra Jawa Kuno

S1

4

Sastra Inggris

S1

5

Sastra Jepang

S1

6

Arkeologi

S1

7

Ilmu Sejarah

S1

8

Antropologi

S1

9

Ilmu Linguistik

S2

10

Kajian Budaya

S2

11

Ilmu Linguistik

S3

12

Kajian Budaya

S3

 

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, Fakultas Ilmu Budaya selalu berusaha memperbaiki proses pendidikan mahasiswanya disertai dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam perjalanan jangka panjang pengembangan pendidikan dan pengajaran di Fakultas Ilmu Budaya dimungkinkan untuk membuka prodi baru di antaranya Prodi Bahasa Perancis dan Prodi Bahasa dan Budaya Korea untuk mendukung kepariwisataan di daerah Bali.