Tugas Akhir

Tengger Brang Kidul: Arena Perebutan Agama di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Tesis

Abstrak

Oleh : Ni Putu Ayu Amrita Pradnyaswari

Email : putuamrita_pradnyaswari@hotmail.co.id

Fakultas / Jurusan : Fakultas Ilmu Budaya / S2 Kajian Budaya

ABSTRAK Tesis ini merupakan sebuah karya orisinal yang ditulis dengan semangat emansipatoris mengenai fenomena dalam masyarakat akibat pendisiplinan agama yang dilakukan negara melalui kehadiran agama resmi tanpa berniat menyudutkan salah satu agama ataupun golongan. Negara yang seharusnya melindungi hak warganya untuk memeluk kepercayaannya sebagaimana tercantum dalan UUD pada kenyataannya justru menekan para masyarakat etnik yang memiliki agama lokal untuk memilih dan memeluk salah satu agama resmi yang diakui pemerintah, yakni Islam, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Kesenjangan terlihat ketika negara hanya mengakui agama “import” sebagai agama resmi negara dan agama lokal yang merupakan agama asli nenek moyang Indonesia dianggap hanya sebagai aliran kepercayaan bahkan terkesan “kafir”. Hal tersebut ditemukan pada masyarakat Tengger Brang Kidul di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dirumuskan dalam 3 pertanyaan, yakni: (1) Bagaimana bentuk perebutan agama? (2) Bagaimana strategi pemertahanan ideologi lama? (3) Bagaimana pergulatan makna dalam arena perebutan agama pada masyarakat Tengger Brang Kidul di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur? Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap usaha pendisiplinan agama yang dilakukan oleh negara melalui agama resmi. Teori yang digunakan sebagai instrumen untuk menganalisa data yang diperoleh adalah teori praktik, relasi kuasa dan pengetahuan, serta hegemoni. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik observasi partisipasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Bentuk perebutan agama dilakukan oleh masing-masing agama resmi dengan membawa klaim kebenaran sendiri dan berlomba menjadi “wadah” yang berkenan menerima masyarakat yang mau mengikuti deras arus pendisiplinan agama. Permainan para agen eksternalitas dalam mengoperasikan modal yang mereka miliki hadir dalam bentuk infiltrasi Buddha Dharma dan dominasi aliran Maitreya, Bali Seering bertopeng Hindunisasi, dan infiltrasi agama Islam. Masyarakat lokal di Desa Ngadas merespon hal tersebut dengan melakukan pemertahanan ideologi lama dengan tetap melaksanakan ritual dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari warisan nenek moyang, seperti sistem kalender, beberapa ritual dan upacara keagamaan, sistem perkawinan, serta usaha dalam membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Tengger. Pergulatan makna dalam perebutan agama terjadi sebagai kompromi antara agen eksternalitas yang memiliki ideologi kebenaran absolut agama yang sarat kekuasaan dan masyarakat lokal yang memiliki ideologi primordial dan ancestor worship dalam rangka mempertahankan kepercayaannya.

Kata kunci : -

Download : File 1 File 2 File 3