UP3M Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Selenggarakan Workshop Metode Pembelajaran Case Based Learning

Pada hari Selasa, 26 Agustus 2025, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, melalui Unit Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (UP3M FIB Unud) selenggarakan Workshop Metode Pembelajaran Case Based Learning. Kegiatan dilaksanakan secara Hybrid di Ruang Priyono, Lt. IV Gedung Poerbatjaraka FIB Unud. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Perencanaan FIB Unud, Para Koordinator Program Studi di lingkungan FIB Unud, Ketua dan Tim UP3M FIB, Perwakilan dari Tim Pelaksana Penjaminan Mutu (TPPM) pada masing-masing Program Studi dan Perwakilan Dosen di lingkungan FIB Unud.


Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting sebagai bentuk penyegaran mengenai pembelajaran Case Based dan Project Based yang dapat diterapkan di kelas. Beliau menegaskan workshop ini sangat relevan untuk diselenggarakan saat ini, karena perkuliahan masih belum dimulai. Sehingga, nantinya luaran dari workshop ini dapat diterapkan langsung ketika perkuliahan mulai berjalan. Setelah menyampaikan kata sambutan, beliau membuka kegiatan workshop secara resmi. 


Workshop ini dibagi menjadi dua sesi dengan dua pembicara. Materi pertama membahas tentang Pengukuran CPL Pada Metode Pembelajaran Case Based Learning/Project Based. Moderator pada kegiatan kali ini adalah dosen dari Program Studi Ilmu Sejarah, Sri Lestari, S.S., M.Si. Narasumber pertama pada workshop kali ini adalah Prof. Dr. Ahmad Yani, M.Pd., dari Universitas Pendidikan Indonesia. Dalam pemaparannya, beliau terlebih dahulu membagikan Google Form berisi pertanyaan terkait pembelajaran. Salah satu pertanyaannya adalah ”Apa hakikat pembelajaran?”, ada yang menjawab pengembangan kognitif dan juga konseptualisasi pengalaman belajar. 


Menanggapi hal tersebut, disampaikan bahwa kurikulum yang baik adalah kurikulum yang yakin apa yang diwariskan ke pelajar dapat digunakan di masyarakat. Kegiatan yang termasuk dalam mengumpulkan ilmu pengetahuan adalah ceramah, memberikan materi, dan membaca buku, sedangkan kegiatan yang termasuk dalam menggunakan ilmu adalah menjawab pertanyaan. Jika dikaitkan dengan relevansi konteks saat ini, yang perlu dikritisi adalah bagaimana pelajar datang ke kampus dan langsung menggunakan ilmunya melalui ilmu pengetahuan yang telah mereka siapkan dengan membaca buku, internet, dan lain sebagainya. 


Narasumber juga memaparkan perbedaan dari ”tugas proyek” menggunakan Project Based Learning (PBL). Hal-hal yang disebut sebagai mengerjakan proyek adalah tugas proyek sebagai tambahan pembelajaran, mengikuti arahan guru, berfokus pada produk, seringkali tidak terikat dengan standar akademik dan keterampilan pekerjaan, serta dapat diselesaikan sendiri. Untuk pembelajaran berbasis proyek dikategorikan sebagai pembelajaran yang terintegrasi ke dalam proyek, didorong oleh penyelidikan siswa, berfokus pada produk dan proses, selaras dengan standar akademik dan keterampilan sukses, dan melibatkan kolaborasi dengan siswa dan bimbingan guru. 


Risiko PBL juga dijelaskan oleh narasumber, seperti halnya PBL akan menghasilkan hasil yang bagus, tetapi jika PBL tidak dilakukan dengan baik maka akan muncul dua masalah. Masalah tersebut adalah banyak tugas dan aktivitas yang diberi label sebagai ”proyek” tetapi bukan PBL dan Proyek menjadi bumerang bagi pendidik yang kurang siap, sehingga menghasilkan waktu yang terbuang, frustasi, dan kegagalan untuk memahami kemungkinan PBL. Melanjutkan topik tersebut, narasumber memberikan penjelasan mengenai syarat menentukan tema Project-Based. Di antaranya adalah harus berkaitan dengan kompetensi dan produk, autentik dan relevan dengan dunia nyata, mendorong untuk berkolaborasi, terukur dan terbatas waktu, memberi ruang kreativitas dan inovasi, serta didukung sumber belajar.


Setelah pemaparan pada sesi pertama selesai dilaksanakan. Agenda kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu membahas tentang Pelaporan PDDIKTI IKU-7 Universitas Udayana dengan narasumber yang berasal dari Unit Pengelola Pelaporan Pangkalan Dikti (UP3D), I Nyoman Prayana Trisna. Beliau merupakan Dosen Fakultas Teknik, Universitas Udayana. Narasumber menjelaskan bahwa UP3D merupakan unit baru yang ada di Unud. Dalam materinya, narasumber menjelaskan mengenai Teknis Pelaporan IKU 7 Evaluasi Pembelajaran. Adapun teknis yang pertama adalah dengan memahami perubahan alur pendataan: dilakukan pendataan terhadap komponen evaluasi per kelas perkuliahan dan nilai per komponen evaluasi di kelas perkuliahan. 


Selanjutnya, mata kuliah akan terhitung jika semua kelas yang dibuka memenuhi kriteria bobot minimal. Mata kuliah juga harus memiliki kelas dan peserta (mahasiswa), kemudian mata kuliah yang memiliki nama sama dihitung sebagai 1 (satu) mata kuliah. Selain itu, dilakukan juga pendataan terhadap llink Rencana Pembelajaran Semester (RPS), dilakukan pada bagian deskripsi Rencana Evaluasi di menu Mata Kuliah. Di akhir materi kedua, narasumber juga menjelaskan bahwa dalam menuju Universitas Udayana Unggul capaian IKU-7, target yang dibutuhkan untuk dicapai adalah sebesar 40% untuk Mata Kuliah S1, DIV, dan DIII, dan mata kuliah tersebut harus menggunakan Case Method dan/atau Team Based Project.