FIB Unud Sukses Gelar SNBI ke-18: Soroti Peluang Revitalisasi Bahasa Ibu di Era Digital
Pada hari Jumat, 20 Februari 2026, Program Studi Doktor dan Magister Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melaksanakan Seminar Nasional Bahasa Ibu ke-18 dengan tema “Bahasa Ibu sebagai Pilar Identitas Bangsa: Tantangan dan Peluang di Era Modernisasi Digital”. Bertempat di Auditorium Widya Sabha Mandala Gedung IB Mantra Lantai 3 FIB Unud, seminar ini terlaksana secara hybrid dan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Udayana, serta dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali, Ketua Asosiasi Peneliti Bahasa Lokal, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, seluruh koordinator program studi di lingkungan FIB Unud, para dosen, dan pemakalah.
Ketua Panitia Pelaksana, Ni Nyoman Tri Gitayani, S.S. menyampaikan bahwa tema tahun ini diangkat untuk merespons urgensi pelestarian martabat dan eksistensi bahasa ibu di tengah gempuran digitalisasi. Seminar ini mencatat antusiasme tinggi dengan melibatkan 120 pemakalah dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri.
Selanjutnya, ibu Elis Setiati, S.Pd., M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali mengapresiasi pelaksanaan SNBI XVIII tahun ini. Bertepatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional, beliau berharap SNBI XVIII tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi wujud aksi nyata, konsultasi, dan gagasan strategis untuk pelestarian bahasa daerah di Indonesia.
Kekhawatiran terhadap masa depan bahasa ibu turut disuarakan oleh Ketua Asosiasi Pendidik Bahasa Lokal (APBL) Pusat, Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A. Beliau menyoroti masifnya pengajaran bahasa asing sejak dini dan menegaskan bahwa bahasa lokal harus dikembalikan maruahnya sebagai fondasi utama (the point of departure) dalam komunikasi awal anak.
Dekan FIB Unud, Prof. I Nyoman Aryawibawa, S.S., M.A., Ph.D., mengingatkan ancaman hilangnya memori kolektif budaya akibat kepunahan bahasa. Meski Bali dan Indonesia memiliki landasan hukum perlindungan bahasa yang kuat, gempuran konten digital berbahasa asing tetap menjadi tantangan berat yang harus dihadapi generasi muda.
Mewakili Rektor Universitas Udayana, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D., secara resmi membuka acara. Beliau mendorong FIB Unud sebagai garda terdepan pelestarian budaya untuk terus mengawal strategi revitalisasi agar warisan leluhur tetap relevan melintasi zaman. Sesi pembukaan ini kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Pelaksanaan Kegiatan antara Program Studi S2 Linguistik FIB Unud dan Balai Bahasa Provinsi Bali.
Adapun materi seminar disampaikan oleh narasumber kunci serta para pakar, diantaranya Dr. Dora Amalia dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra sebagai narasumber kunci, Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum. dari Universitas Airlangga, Prof Dr. Maria Arina Luardini, M.A. dari Universitas Palangkaraya, dan Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. dari Universitas Udayana sebagai para narasumber.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dr. Dora Amalia, selaku narasumber kunci menegaskan peran bahasa ibu sebagai instrumen fundamental pendidikan karakter. Beliau mendorong agar era digital tidak dipandang semata sebagai ancaman, melainkan dioptimalkan sebagai peluang revitalisasi melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), aplikasi edukasi edukatif, serta integrasi kurikulum digital.
Presentasi Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum. menjelaskan bahwa di tengah dominasi bahasa global dan pergeseran minat generasi muda ke ruang digital, bahasa ibu terancam mengalami penyempitan ranah penggunaan serta disrupsi transmisi antargenerasi. Tantangan di Bali semakin kompleks karena bahasa daerah harus bersaing dengan bahasa Indonesia dan Inggris yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi di sektor pariwisata. Namun, era digital juga menawarkan peluang revitalisasi melalui produksi konten kreatif, digitalisasi sastra lisan, dan kolaborasi lintas sektor.
Terkait intervensi teknologi, Prof. Dr. Maria Arina Luardini, M.A. dari Universitas Palangka Raya menekankan perlunya integrasi pelestarian budaya ke dalam pendidikan. Menurutnya, penggunaan kecerdasan buatan dapat menjadi alat pelestarian yang tangguh jika diimbangi dengan bimbingan akademis yang tepat dan penerapan program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD)
Mengakhiri sesi pemaparan materi, Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. dari Universitas Udayana, menganalogikan bahasa ibu sebagai "tali pusar" emosional bagi komunitas diaspora di Bali. Ia optimis bahwa inovasi teknologi seperti Unicode aksara daerah dan kehadiran platform komunitas virtual mampu menghadirkan transformasi pelestarian yang lebih dinamis, modern, dan berdaya saing.
Dalam sesi penutupan seminar, Koordinator Program Studi Magister Ilmu Linguistik FIB Unud, Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., merefleksikan perjalanan 18 tahun penyelenggaraan SNBI. Beliau memaparkan bahwa forum yang awalnya dirancang untuk melatih mahasiswa magister tampil mempresentasikan makalah ini, kini telah berkembang menjadi ajang pertemuan nasional yang sukses memfasilitasi kolaborasi strategis antar-ahli bahasa dan sastra. Sambutan ini pun sekaligus menutup sesi utama sebelum acara dilanjutkan ke presentasi makalah paralel.


UNIVERSITAS UDAYANA