Memperkenalkan Naratif dalam Bentuk Visual, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana (FIB Unud) Mengadakan kuliah umum Documentary Film Making Menghadirkan Pembicara Luar dari University of Tartu

Denpasar, 13 November 2024 — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB UNUD) menggelar kuliah umum bertajuk Documentary Film Making di Ruang Ir. Soekarno, dengan menghadirkan pembicara, Lodewyk Marthinus Barkhuizen yang juga merupakan pengajar sekaligus Junior Research Fellow dalam bidang Folkloristik di University of Tartu. Kuliah umum ini dihadiri oleh 76 peserta mahasiswa dan dosen.


Kuliah umum ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk implementasi kerja sama FIB Unud dengan University of Tartu, yang beberapa di antaranya dalam bentuk kuliah tamu, diskusi kelompok terpusat, riset grup, dan workshop. Kuliah tamu merupakan bagian dari kegiatan akademis yang bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan praktis, dari berbagai ahli atau praktisi dari dalam dan luar negeri, kepada mahasiswa terutama mahasiswa-mahasiswa yang akan mengerjakan tugas akhir berupa pembuatan film dokumenter. Topik yang dibahas mencakup teknik-teknik dasar dalam pembuatan film dokumenter, termasuk pengambilan gambar, penulisan skrip, serta komposisi video dan pencahayaan yang efektif.


Dalam sesi pemaparan materi, Lodewyk Barkhuizen memulai dengan mengenalkan dasar-dasar pembuatan film dokumenter, seperti teknik pengambilan gambar yang tepat, cara menulis skrip yang menarik, serta aspek-aspek penting dalam pengeditan video. Para mahasiswa pun diberi pengetahuan tentang bagaimana mengonsep dan mengeksekusi naskah video (script) agar menghasilkan video dokumenter yang berkualitas tinggi, dengan atmosfer yang mendalam dan penyampaian fakta yang jelas.


Lodewyk Barkhuizen menekankan bahwa dalam pembuatan film dokumenter, hal yang paling penting adalah bagaimana menyampaikan fakta dengan jujur dan akurat. "Fakta adalah inti dari sebuah karya dokumenter. Tanpa fakta yang tepat, video tersebut kehilangan makna dan tujuan. Fakta yang dihadirkan dalam film dokumenter haruslah tetap autentik, jangan sampai demi aspek visual yang menarik kita mengorbankan kebenaran," ungkap Barkhuizen.


Salah satu mahasiswa Sastra Inggris, I Gede Pasek Adhyasta Wijaya, bertanya mengenai cara agar sebuah film dokumenter bisa tetap menarik tanpa mengesampingkan fakta. Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Lodewyk Barkhuizen menyampaikan bahwa yang terpenting dalam membuat film dokumenter adalah menangkap dan menyampaikan atmosfer yang ada dalam cerita. "Kita tidak perlu berfokus pada membuat video yang 'semenarik mungkin'. Fokus utama adalah mengonsep atmosfer yang sesuai dengan cerita dan fakta yang ada. Sebuah dokumenter harus bisa menghadirkan pengalaman nyata, yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih tentang topik yang diangkat."


Sesi diskusi dan tanya jawab dilakukan dalam bentuk diskusi langsung. Peserta dapat menyampaikan pertanyaan seputar materi yang dipaparkan. Ini menjadi kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk menggali lebih dalam tentang dunia pembuatan film dokumenter.




Di akhir sesi, Lodewyk Barkhuizen kembali menekankan bahwa penyampaian fakta adalah hal yang tak boleh disepelekan dalam pembuatan dokumenter. "Kesalahan terbesar dalam dokumenter adalah mengabaikan kebenaran demi visual yang lebih menarik. Kita harus tetap berpegang pada fakta dan menjaga integritas karya," tegasnya. Kuliah umum ini ditutup dengan sesi foto bersama pembicara, mahasiswa, dan para peserta tamu (ben).