Prodi Sastra Jawa Kuno Kenalkan Lontar pada UWRF 2024
Program Studi (Prodi) Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana mengenalkan seluk-beluk tentang lontar pada gelaran Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2024. Kegiatan yang merupakan bagian dari sesi Art & Culture Program UWRF 2024 dilaksanakan di Honeymoon Garden yang terletak di kawasan Ubud, Gianyar (27/10).
Dosen Prodi Sastra Jawa Kuno yang ikut serta di antaranya Dr. Putu Ari Suprapta Pratama, S.S., M.Hum., Putu Gede Suarya Natha, S.S., M.Hum., dan Dewa Ayu Carma Miradayanti, S.S., M.Hum. Mereka berkolaborasi dengan anak-anak muda dari Komunitas Dinane Mangkin yang juga merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Komunitas Dinane Mangkin adalah komunitas literasi yang fokus pada pelestarian Bahasa Bali.
Carma Mira mengatakan dalam kegiatan bertajuk Balinese Palmleaf Manuscript Crafting Experience, pihaknya mengenalkan keberadaan lontar sebagai salah satu kekayaan literasi Nusantara. "Sesi ini diisi oleh Program Studi Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, sekaligus sebagai bentuk implementasi kerja sama antara pihak Fakultas Ilmu Budaya dengan Yayasan Mudra Saraswati. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan juga luar negeri," kata dia.
Pada sesi tersebut setiap peserta diberikan berbagai informasi yang berkaitan dengan lontar. "Kami menjelaskan apa saja jenis lontar berdasarkan isinya, tempat penyimpanan lontar, dan lontar yang bisa diakses secara online. Kami juga kenalkan tentang aksara Bali dan prasi, alat-alat yang digunakan untuk menulis lontar, kemudian berlatih menulis aksara bali di lontar," kata dia.
Kegiatan tersebut disambut hangat oleh peserta. Salah satunya peserta asal Kalimantan, Miranda Seftiana. Ia mengaku merasa sangat kagum dengan budaya Bali yang masih dilestarikan sampai saat ini. "Saya merasa kagum dengan budaya Bali yang masih dilestarikan sampai saat ini, karena di daerah saya, pengetahuan-pengetahuan tradisional tidak terdokumentasi dengan baik," kata dia.
Salah satu pengetahuan yang dipandang tidak terdokumentasi itu contohnya pengetahuan tentang arsitektur. "Jadi orang-orang di daerah saya baru sekarang kembali mencari data dengan mengunjungi rumah-rumah kuno yg masih tersisa untuk mengukur dan melihat kembali desain rumah tradisional." kata Miranda.
UDAYANA UNIVERSITY