Program Studi Sastra Inggris Gelar Workshop untuk Pengajar Bertajuk Vocabulary Techniques and Grammar Teaching as Language Teaching
Program Studi Sastra Inggris mengadakan Workshop pada Senin, 16 Desember 2024 bertempat di Ruang Ir. Soekarno, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. John Busch hadir sebagai narasumber dari Regional English Language Office (RELO) US Embassy Jakarta. Beliau menyajikan materi bertajuk Vocabulary Techniques and Grammar Teaching as Language Teaching kepada total 50 peserta mahasiswa dan dosen.
Acara dibuka dengan sambutan dari Koordinator Program Studi Sastra Inggris, Prof. Dr. I Wayan Mulyawan, S.S., M.Hum. Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran John Busch yang datang untuk membagikan ilmu mengajar dan berharap workshop ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas bagi seluruh peserta. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Koordinator Program Studi Sastra Inggris, Prof. Dr. I Wayan Mulyawan, S.S., M.Hum.
Narasumber membuka sesi pertama dengan pernyataan bahwa ‘Vocabulary’ atau ‘Kosakata’ merupakan hal yang paling mudah dipelajari dalam bahasa. Sebaliknya, ‘Grammar’ atau ‘Tata Bahasa’ merupakan hal yang paling sulit dipelajari. Menurut Busch, kosakata dan tata bahasa dapat dipelajari sesuai level masing-masing untuk mempermudah pemahaman. Beliau juga menjelaskan bahwa belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang harus spesifik sesuai situasi. Sehingga, setiap orang memiliki level berbeda dan situasi belajar-mengajar yang berbeda pula.
Busch kemudian lanjut menjelaskan materi pertama yang merupakan Vocabulary Techniques as Language Teaching. Beliau menjelaskan bahwa mempelajari kata baru dengan membaca definisi langsung dari kamus merupakan salah satu cara terbaik untuk mengingat kosakata. Busch juga memberikan tiga teori memori yang biasanya terjadi bila kita mencoba mengingat kosakata. Teori pertama ialah dual coding theory yang mengingat lebih mudah apabila menghafal dengan bantuan verbal dan non-verbal. Teori kedua merupakan trace theory yang menekankan kemampuan mengingat dari jejak definisi kata tersebut. Terakhir, levels of processing theory yang merupakan teknik mengingat kosakata secara bertahap mulai dari form (bentuk), sound (suara), hingga meaning (makna).
Busch membuka sesi kedua workshop yang membahas Grammar Teaching as Language Teaching. Beliau menyampaikan bahwa tata bahasa lebih banyak diperoleh daripada dipelajari. Pada bagian awal, diberikan contoh cara menjawab pertanyaan komprehensif yang membutuhkan penjelasan jelas untuk mendapat pemahaman. Sebagai contoh, apabila pertanyaannya “Why is studying abroad challenging?” maka harus dijawab dengan pengulangan tata bahasa yang sama, “Studying abroad is challenging because …” sehingga jawaban dapat memberikan pemahaman yang lengkap bagi pembaca. Kemudian, dijelaskan pula teknik-teknik lain dalam mengajar tata bahasa yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman siswa.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan ialah bagaimanakah cara pengajar mengontrol para siswa pintar yang mungkin merasa bosan karena pelajaran terlalu mudah bagi mereka. Busch menjelaskan bahwa dia akan membagi kelompok secara acak agar satu kelompok memiliki anggota yang beragam, tidak hanya yang pintar-pintar saja atau sebaliknya. Kemudian, dia akan memberikan pelajaran dalam tiga level: mudah, sedang, dan sulit. Sehingga, semakin lama tingkat pelajaran akan semakin sulit sehingga tetap ada tantangan yang bisa mengusir rasa bosan.
Pada akhir acara, Busch mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan antusias para peserta, juga berharap baik para mahasiswa maupun dosen mempelajari sesuatu yang berguna hari ini. Acara pun ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama dengan para peserta (Frans.)
UDAYANA UNIVERSITY