Binar-Webinar #1: Masyarakat Austronesia dan Kebudayan Megalitik

 

Berawal dari diskusi ringan lewat sosial media para Keluarga Alumni Arkeologi (KALA) Universitas Udayana menggagas kegiatan Bincang Arkeologi (BINAR) lewat Webinar untuk memberikan manfaat keilmuan lebih banyak kepada Warga Mahasiswa Arkeologi (WARMA) Unud di tengah Pendemi Covid19.


BINAR-Webinar #1 diselenggarakan pada Jumat, 22 Mei 2020 dengan tema “Masyarakat Austronesia dan Kebudayaan Megalitik”, menghadirkan 2 pembicara yaitu Rochtri Agung Bawono, S.S, M.A dari Prodi Arkeologi FIB Universitas Udayana dan Asyhadi Mufti Sadzali, S.S, M.A dari Prodi Arkeologi FIB Universitas Jambi sekaligus anggota KALA-UNUD. Selaku Moderator Adzmi Akbar Maulana, Mahasiswa Arkeologi yang tergabung dalam Warma.

 


Pemaparan Webinar oleh Pemateri

 

Austronesia dan Megalitik


Pembicara pertama Rochtri Agung Bawono, S.S, M.A menyajikan presentasi berjudul “Austronesia: Manusia, Situs, dan Ritus Megalitik dalam Perbandingan”. Pengertian, asal-usul, migrasi dan temuan arkeologi yang berhubungan disampaikan secara singkat dan jelas. Austronesia yang memiliki leluhur dari Taiwan berhasil bermigrasi karena tiga faktor utama yaitu teknologi peralatan, domestikasi, dan teknologi pelayaran.


Perbandingan antarsitus dan ritus juga disajikan terutama terkait dengan pemujaan leluhur dan upacara kematian yang memiliki kemiripan pada penutur Austronesia yang tersebar dari Taiwan, Madagaskar, Selandia Baru hingga Pulau Paskah. Bukti-bukti tersebut dapat dijumpai dalam bentuk bangunan megalitik yang beragam di setiap tempat.


Pembicara kedua Asyhadi Mufti Sadzali, S.S, M.A membahas tentang “Simbolik Budaya Megalitik”. Alumni Arkeologi Unud yang sekarang menjabat Ketua Prodi Arkeologi Unja ini menjelaskan secara detail tentang sejarah dan teori tentang Austronesia, kerangka berpikir kebudayaan megalitik, dan sebaran situs megalitik di wilayah Kerinci, Lima Puluh Kuto, Pagar Alam, dan Lore Lindu-Sulawesi.


Setiap wilayah tersebut memiliki keragaman temuan antara lain batu silindrik berhias, menhir berhias, monolith arca, dan kalamba. Analisis struktur simbolik Megalitik dicermati berdasarkan bahan baku keseluruhan andesit, bentuk dan motif yang beragam, penempatan yang menunjukkan semakin tinggi semakin sakral, dan fungsi sebagai media pemujaan, ruang sakral serta batas wilayah.


Hal ini menjadikan narasi simbolik tersebut sebagai monumen jangka panjang, sistem sosial politik, identitas lokal, dan ekspresi seni.

 


Peserta Binar-Webinar yang antusias

 

Sambutan Luar Biasa


Kegiatan ini juga dihadiri secara daring oleh peneliti dan pemerhati budaya seluruh Indonesia dari Sumatra hingga Papua. Demikian juga dari instansi yang beragam, pegawai pemda, Balai Arkeologi, Balai Pelestari Cagar Budaya, Akademisi, bahkan LSM budaya. Beragam pertanyaan terkait megalitik dan tradisinya diajukan oleh peserta.


Salah satu peserta yang hadir, Dr. Agus Widiatmoko yang menjabat Kepala Subdirektorat Sejarah Nasional Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan bertanya dan berdiskusi tentang perbandingan megalitik di Nusantara dengan Laos yang memiliki kemiripan, walaupun tidak ada pengaruh Austronesia.


Demikian juga pertanyaan dari Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi terkait manfaat kita belajar tentang Austronesia dan megalitik ini bagi masyarakat sekarang. Dr. Agus Widiatmoko turut menjelaskan bahwa Austronesia dan kebudayaannya merupakan bagian dari masyarakat Indonesia awal kemudian bertemu dengan pengaruh Hindu Budha, Islam, dan Kolonial (baca: Kristen).


Kebudayaan Austronesialah yang membentuk akar kebudayaan dan masyarakat Indonesia saat ini.


Kemeriahan dan kesuksesan webinar ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari Alumni yang bergabung maupun yang belum bergabung, sehingga mengharap adanya webinar lanjutan dengan tema yang berbeda.


Panitia kecil telah mempersiapkan Binar-Webinar #2 dengan tema yang tidak kalah seru, tunggu dan ikuti terus beritanya (Rochtri Agung Bawono)