Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Raih Doktor Kajian Budaya di FIB Universitas Udayana

 



Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa (UHN IGB Sugriwa) meraih gelar doktor Kajian Budaya di Prodi Doktor Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana pasca dinyatakan lulus dalam promosi doktor pada hari Jumat, 10 Juli 2020. Dalam masa transisi menuju New Normal akibat pandemi Covid-19 acara tersebut masih dilaksanakan secara daring melalui aplikasi webex.


I Made Gede Anadhi, S.Sn., M.Si. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Praktik Pemaknaan Para Praktisi Ke-Bali-an terhadap Rajah Panyengker di Kota Denpasar Masa Kini”.



Ia dinyatakan lulus dengan predikat “sangat memuaskan”. Kelulusannya tercatat sebagai doktor ke-228 di Prodi Doktor Kajian Budaya dan sebagai doktor ke-93 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.



Dekan Fakultas Ilmu Budaya  Universitas Udayana Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum.


Acara promosi doktor tersebut dipimpin oleh Ibu Dekan FIB Unud Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., dengan promotor dan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum (Promotor), Dr. I Nyoman Wijaya M.Hum (Kopromotor I), dan, Dr. I Nyoman Sukiada, M.Hum. (Kopromotor II), serta tim penguji Prof. Dr. Anak Agung Ngurah Anom Kumbara, M.A., Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U., Dr. Ida Bagus Puja Astawa, M.A., Dr. I Ketut Setiawan, M.Hum., dan Dr. Ni Made Wiasti, M.Hum.

 

Fokus Penelitian dan Temuan


I Made Gede Anadhi, S.Sn., M.Si. dalam presentasinya menjelaskan bahwa objek penelitian disertasinya berkaitan dengan Rajah Panyengker yang dipraktikkan oleh para praktisi (balian, pemangku, dan sulinggih) di masa kini sebagai usaha untuk memperoleh kerahayuan.




I Made Gede Anadhi, S.Sn.,  M.Si.



Rajah Panyengker dalam studi tersebut dimaknai sebuah sarana penangkal kekuatan ilmu hitam yang merupakan warisan masa lampau masyarakat Bali dan bertahan hingga sekarang. Fokus permasalahan yang diangkat oleh peneliti secara khusus adalah (1) hubungan antara pengetahuan dengan kekuasaan dalam setiap pemaknaan (wacana) para praktisi masa kini terhadap Rajah Panyengker; (2) proses pertemuan antara kepentingan para praktisi dan pemakai Rajah Panyengker dalam berbagai arena kehidupan; dan (3) implikasi dari kontestasi pemaknaan Rajah Panyengker ketika difungsikan sebagai sarana untuk mendapatkan kerahayuan.


Dengan menggunakan pendekatan postsrukturalis dengan pemahaman konsep-konsep dalam teori Foucault dan mengoperasionalkan konsep-konsep teori Struktural Generatif Pierre Bourdieu peneliti menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut.


Pertama, sekalipun zaman telah berubah, ide tentang Rajah Panyengker tetap muncul melalui internalisasi nilai berkepanjangan dan karena adanya kesamaan episteme orang Bali, Rajah Panyengker masih menyajikan tujuan mencari kerahayuan yang serius.





Selalu ada praktisi yang mencoba mencari dan menemukan sebuah ideologi untuk mendapatkan kerahayuan, dan selalu ada pula pasien yang menyetujuinya, sehingga pada dasarnya apapun yang diposisikan sebagai wacana kerahayuan, selalu dilingkupi oleh pengetahuan connaissance individu-individu. Akhirnya, hal itu menyaingi ide-ide penyelamatan dalam bentuk lain, seperti ritual upacara, upakara, yoga, dan meditasi.


Kedua, dengan pengaruh habitus dan modal budaya mitis dan mistisnya orang Bali menempatkan Rajah Panyengker dalam arena perjuangan sosial, sehingga bagaikan pasar selalu ada penjual dan pembeli dalam ranah ini. Ini berarti bahwa antara para praktisi dan pasien, tanpa mereka sadari selalu bersinergi dalam mencari dan menemukan model-model atau cara-cara untuk mendapatkan kerahayuan.


Sekalipun bukan sebuah ilmu, Rajah Panyengker ditopang oleh masyarakat yang pengetahuan connaisance-nya begitu kuat, yang tumbuh dalam hatibus dan episteme dunia mitis dan mistis berkepanjangan. Rajah Panyengker lebih diminati, setidaknya masih tetap bertahan sekalipun ilmu kedokteran berkembang dengan pesat.


Ketiga, pengaruh habitus dan episteme itu menjadikan orang Bali tidak pernah berhenti memikirkan Rajah Panyengker, sehingga selalu ada suatu pembaruan atas model pembelajaran atau kontestasi ideologi dalam memberikan atau mendapatkan kerahayuan. Artikulasi Rajah Panyengker verbal didisartikulasikan dengan yang non verbal, yang memakai aksara didisartikukasikan dengan yang tanpa aksara.


Demikian pula Kanda Pat. Aksara berkontestasi dengan Kanda Pat lisan yang lebih mengutamakan bahasa, bukan aksara seperti yang pada umumnya di Bali. Sementara itu, orang-orang yang sudah mampu melampaui Rajah Penyengker menempatkan kesadaran terhadap Tuhan sebagai pelindung.


Epilog dari Promotor


Promotor Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., dalam sambutan singkatnya tentang makna disertasi mengucapkan selamat atas prestasi yang berhasil diraih oleh promovendus dan seluruh sivitas akademika UHN IGB Sugriwa karena telah memiliki satu doktor yang nantinya diharapkan dapat menambah atmosfer akademis di perguruan tinggi tersebut.


Beliau juga berpesan kepada “Doktor Pragina Rajah Kajang Panyengker” itu agar gelar doktor yang disandangnya dapat selalu menantang gairah akademisnya sehingga bisa berkarya secara produktif, inovatif, dan etis untuk membangun kemaslahatan manusia (Guna).