Narasumber dari UI dan Unud (tengah) berfoto bersama peserta pembelajaran jarak-jauh.

 

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud menggelar lokakarya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada Rabu dan Kamis (26-27/6/2019) bertempat di Aula Widya Sabha Mandala kampus setempat.


Lokakarya PJJ di FIB diikuti oleh 40 peserta dari seluruh prodi yang ada di lingkungan FIB. Bahkan hadir beberapa dosen dari Fakultas Kedokteran dan Pariwisata untuk turut serta mengikuti kegiatan lokakarya ini dan mempraktekkan pembuatan serta pengelolaan PJJ untuk mata kuliah masing-masing.


“Online Education”`


Kegiatan lokakarya ini dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Dalam sambutannya Prof. Sutji menyampaikan bahwa dalam revolusi pendidikan tinggi, kini sudah dapat ditemui berbagai jenis online education yang telah dikembangkan.


Peserta pelatihan PJJ.


“Hal ini  tidak lain sebagai salah satu strategi membekali lulusan dengan pengetahuan dan kemampuan bekerja untuk menghadapi tantangan dunia kerja,” ujar Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.


Dekan Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. mengatakan bahwa daya saing para dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa terus harus dikembangkan melalui peningkatan literasi pada data, literasi pada teknologi, dan literasi pada manusia.


“FIB akan terus mengembangkan diri untuk meningkatkan kualitas tersebut, dan untuk itulah lokakarya e-learning ini dilaksakan,” ungkap Prof. Sutjiati.


Narasumber dari UI


Kegiatan selama dua hari ini menghadirkan narasumber Drs. Gatot Fatwanto Hertono, M.Sc. Ph.D dari Universitas Indonesia. Gatot Fatwanto juga merupakan salah satu tim pengembang SPADA Indonesia yang berada di bawah Kemenristek Dikti. 


Dalam paparannya, Gatot menyampaikan bahwa hybrid  atau blended learning merupakan sebuah strategi penyampaian kuliah yang menggabungkan kelas tatap muka dengan daring.


Tujuannya adalah untuk lebih memperkaya pembelajaran metode pembelajaran yang bermuara pada meningkatnya mutu pembelajaran di Indonesia. Pola pembelajaran dengan sistem ini juga telah mampu meningkatkan efektifitas proses pembelajaran.


Peserta pelatihan PJJ.


Hybrid learning ini menjadi salah satu program pengembangan pola pendidikan di Indonesia, sehingga diharapkan setiap perguruan tinggi yang telah siap dengan segala sarana dan prasarana serta SDM menyelenggarakan program ini,” ungkap Gatot.


Menurutnya, perkembangan revolusi industri 4.0 menjadi salah satu tantangan termasuk dalam pola pendidikan, dan dosen mau tidak mau harus menjawab tantangan tersebut


Daya Saing Perguruan Tinggi


Gatot juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan pembukaan Prodi PJJ. Pembukaan Prodi PJJ adalah salah satu program dari Kemenristek Dikti guna meningkatkan daya saing perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia.


Keberadaan Prodi PJJ ini telah memiliki payung hukum yang kuat saat ini, terlebih dengan dikeluarkannya Peranturan Menteri Ristek Dikti Nomor 51 Tahun 2018 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri, dan Pendirian, Perubahan, Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta.


Permen ini memungkinkan perguruan tinggi di Indonesia membuka kelas PJJ dengan sistem dan standar yang telah ditentukan oleh Kemenristek Dikti. Penerapan standar ini bertujuan agar tetap mampu mempertahankan kualitas prodi yang akan menjadi Prodi PJJ.


Tim Narasumber Unud


Narasumber selanjutnya adalah I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan, S.Kom., M.Sc. dan Komang Oka Saputra, S.T., M.T., Ph.D., keduanya merupakan tim pengembang PJJ di Universitas Udayana.


Universitas Udayana saat ini tengah menggalakkan penyelenggaraan PJJ di seluruh fakultas, dan ini menjadi salah satu kontrak kerja antara dekan dengan rektor.


Guna memaksimalkan program PJJ ini, sejak tahun 2018 Universitas Udayana telah menyelenggarakan Klinik PJJ yang bertujuan memberikan pelatihan secara intensif bagi dosen-dosen berbagai fakultas untuk menyiapkan materi PJJ.


Klinik PJJ ini telah mampu mendorong dan meningkatkan jumlah mata kuliah yang menggunakan sistem PJJ di Unud (Gita)