Doktor baru I Made Wiradnyana menerima sertifikat kelulusan dari Dekan FIB Unud, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum.

 

Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama Drs. I Made Wiradnyana, M. Hum, Kamis, 30 Juli 2020 secara online melalui aplikasi webex. Ujian juga disiarkan secara langsung lewat kanal Youtube dalam link https://www.youtube.com/watch?v=w5r9P1TNW7E .

 

Wiradnyana, dosen Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa Denpasar, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Cerita Mayadanawa dalam Sastra-Sastra Hindu di Bali” dan dinyatakan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’. Ia menjadi doktor ke- 96 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Doktor ke-196 di Lingkungan Prodi Doktor (S3) Ilmu Linguistik.



 

Ketua penguji pada Promosi Doktor kali ini adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S. (Promotor), Prof. Dr. I Made Suastika (Kopromotor I), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Kopromotor II); Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S.; Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si; Prof.Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum.; Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum.; dan Dr. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum.

 

Mitos Mayadanawa

 

Dalam presentasinya, Wiradnyana menyampaikan bahwa cerita Mayadanawa merupakan  salah satu cerita rakyat yang terkenal dan selalu menjadi ingatan kolektif masyarakat Bali. Cerita dan sosok Mayadanawa dikenal dari dulu sampai sekarang sehingga menjadi mitos, walaupun banyak pertanyaan muncul di sekitarnya.


Dr. Made Wiradnyana.

 

“Mitos itu telah memunculkan sejarah lisan tentang terbentuknya nama-nama desa dan budaya perilaku masyarakat Hindu di Bali. Meski berkaitan dengan fakta, belum pernah diterima bahwa kisah itu faktual adanya,” ujar Wiradnyana.

 

Menurut Wiradnyana, keberadaan tokoh Mayadanawa menarik diteliti, karena tidak hanya sebagai sosok dan kisah penting dalam tradisi sastra Bali, namun juga sebagai mitos dalam tradisi ritual umat Hindu di Bali dan tradisi kesenian, baik seni rupa maupun seni pertunjukan. Penelitian Wiradnyana bertolak dari tiga masalah, yaitu (1) bagaimanakah mitos Mayadanawa dalam tradisi sastra? (2) bagaimanakah mitos Mayadanawa dalam tradisi seni? (3) bagaimanakah mitos Mayadanawa dalam tradisi agama Hindu di Bali?




Di ujung uraiannya, Wiradnyana menyimpulakn tiga hal. Pertama, mitos Mayadanawa yang pada mulanya dituturkan secara lisan, terus bertransformasi ke dalam sastra tulis. Kedua, mitos Mayadanawa dalam tradisi seni diresepsi ke dalam bentuk seni rupa (seni lukis dan seni kriya), dan pertunjukan.

 

Ketiga, mitos Mayadanawa dalam tradisi agama, diresepsi dalam bentuk berbagai kegiatan religius, antara lain penancapan penjor dan perayaan harus suci Galungan-Kuningan sebagai peringatan kemenangan dharma melawan adharma, pembuatan ogoh-ogoh bertemakan Mayadanawa pada dalam rangkaian hari suci Nyepi, pemujaan arca di berbagai tempat, tradisi ruwatan di pura Tirta Empul, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

 

Dalam sesi tanya jawab, banyak hal terungkap sehingga diskusi menjadi hangat. Pertanyaan yang muncul antara lain, asal-usul kisah Mayadanawa, perbedaan persepsi masyarakat dari waktu ke waktu, dan perbedaan resepsi dari satu tempat ke tempat lain, serta tafsir mengenai kaitan tempat-tempat faktual antara fiksi imajinatif Mayadanawa.

 

Makna Disertasi


Sambutan mengenai makna disertasi yang mesti disampaikan Promotor Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma, diwakili oleh kopromotor 2 Prof. I Nyoman Darma Putra.




Promotor Prof. Dr. Nyoman Weda Kusuma.


Dalam sambutannya, Prof. Darma Putra menyampaikan, bahwa disertasi tentang Mayadanawa ini mengungkapkan berbagai fenomena dan problema dalam pemahaman pembaca tentang tradisi lisan Bali.


Topik yang dibahas sangat menarik dalam konteks hubungan tali-temali antara kisah dan sosok Mayadanawa dengan setidaknya tujuh ranah yang oleh Prof Darma Putra disingkat dengan formula 6-T dan 1-S: yaitu kaitan Mayadanawa dengan teks, tradisi, tontonan, tuntunan, tempat, dan tempo (waktu), sedangkan S-nya adalah ‘seni’ khususnya seni rupa (lukis dan patung).



Kopromotor II, Porf. I Nyoman Darma Putra.


“Kehebatan cerita rakyat Mayadanawa justru terletak pada sifatnya tidak pernah selesai untuk ditafsirkan. berbagai persepsi muncul tentang Mayadanawa, dan itu berbeda secara geografis dan zaman. Perbedaan tafsir itu terus menimbulkan tafsir baru yang akhirnya terus membuat kisah Mayadanawa hidup dalam alam pikiran masyarakat Bali,” ujar Darma Putra.

 

Dalam tanya jawab tadi terungkap bahwa sosok Mayadanawa sendiri mengundang berbagai tafsir, apakah dia dewa atau raksasa atheis; apakah Dewa Indra itu simbol sosok dari ‘India’ yang membawa peradaban baru ke Bali atau dewa Indra itu simbol dari air besar karena secara etimoligis kosakata Sansekerta ‘Ind’ itu berarti ‘air yang besar’, mengacu kepada aliran air di Pura Tirta Empul di Tampaksiring, Gianyar.

 

“Karena berbagai tafsir itulah, kisah Mayadanawa selalu hadir dalam kehidupan seni, agama, tradisi dan kehidupan kontemporer masyarakat Bali,” ujar Darma Putra, sambil memberikan contoh bagaimana Mayadanawa ditampilkan dalam sosok ogoh-ogoh yang diarak sehari menjelang Nyepi.

 

Sebagai ko-promotor II, Darma Putra menyampaikan penghargaan atas kerja kerasnya membuka makna-makna dan problema sekitar kisah dan sosok Mayadanawa.

 

“Sesudah selesai menempuh program Doktor, promovendus jelas memiliki banyak topik untuk agenda penelitian lebih lanjut, karena Mayadanawa ibarat mata air di Tirta Empul yang tidak pernah selesai menyajikan tantangan untuk disimak dan didalami,” ujarnya (dm).