Dr. Made Redana saat presentasi disertasi



Program Doktor Kajian Budaya kembali mengelar ujian terbuka pada hari Kamis, 1 November 2018 dengan promovenda Made Redana bertempat di Ruang Soekarno, Gedung Poerbatjaraka Fakultas Ilmu Budaya Unud. Ujian terbuka dipimpin langsung oleh Deka FIB, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.


Made Redana yang mengangkat persoalan Rekonstruksi Pandita Hindu dalam Dinamika Tri Sadhaka dan Sarwa Sadhaka di Bali menyatakan isu ini masih hangat di kalangan masyarakat Bali.


Masyarakat Akar Rumput



Menurut Redana, pada masyarakat akar rumput, terjadi suatu polarisasi pemikiran yang mengasumsikan bahwa ada pandita yang menempati posisi lebih tinggi, sementara yang lain lebih rendah. Pandangan ini menurut pria kelahiran Busung Biu, 8 Maret 1965 tersebut bersumber dari konsep tri sadhaka yang menempatkan subordinat berjenjang atau hirearkis. Subordinat itu tampak nyata dalam pembagian kewenangan Pandita Siwa menguasai posisi alam atas yang terlihat dari praktik-praktik ritual dewa yadnya, Pandita Buddha menguasai alam tengah termanifestasi dari ritual-ritual kemanusiaan, dan Pandita Bujangga menguasai alam bawah yang terwujud dalam praktik ritual yang berkaitan dengan Bhuta Yadnya dan penyucian lingkungan. Saat ini, disinyalemen ada upaya untuk mengubah struktur hirearkis itu sehingga tidak lagi ada penjenjangan yang bersifat superior-inferior, superordinatif-subordinatif, dan pusat-pinggir melalui munculnya konsep sarwa sadaka. Konsep sarwa sadaka mengidealkan kesetaraan dalam hal pimpinan religi.  



Bertitik tolak dari latar belakang tersebut, Made Redana menggunakan metodologi penelitian phsycological phenomenology yang berfokus pada pemahaman dan penemuan konstruksi makna dari perspektif subjek atau atau partisipan penelitian mengenai esensi struktur pengalaman-pengalaman personal subjek tentang fenomena. Untuk menghasilkan kajian ilmiah, peneliti yang kesehariannya juga sebagai staf dosen di Institut Hindu Darma Negeri Denpasar ini menerapkan sejumlah teori kajian budaya seperti teori Relasi Kuasa, Strukturasi, Hegemoni, Konstruksi, dan Dekonstruksi.

 

 


 

Temuan dalam Disertasi



Melalui aplikasi teori-teori tersebutlah Ia menghasilkan tiga temuan dalam penelitiannya. Pertama, dilihat dari aspek kompetensi dan identitas pendeta Hindu diperlukan peningkatan kompetensi intelektual berupa (1) pengetahuan agama dan kesradaan yang tinggi, (2) berpikir kritis-reflektif, (3) berpikir kontekstual, (4) berpikir pragmatis, (5) berpikir keruangan/waktu, dan (6) kesadaran kesejarahan sesuai dengan identitas klannya seperti Padanda, Bagawan, Resi Bujangga, Mpu, dan Dukuh.  Kedua, dinamika pandita Hindu menunjukkan perubahan ideologi dari tri sadhaka menuju sarwa sadaka karena dianggap sesuai dengan ideologi warna. Arah perubahan itu merupakan kehendak publik (yang terdiri atas elit agama, elit wangsa, dan mayoritas umat Hindu) yang dilandasi oleh kepentingan menuju kesetaraan religi. Ketiga, dalam konteks perubahan ideologi tersebut ternyata membawa implikasi yang luas dalam menentukan sistem religi di Bali. Hal itu sejalan dengan pemikiran Ketua Parisada Bali, bahwa di era sekarang tidak ada kesulitan untuk menjadi pandita Hindu karena semua orang yang memenuhi syarat berhak menjadi pandita Hindu. Ia juga berharap agar di masa depan, pandita-pandita yang menjalankan fungsi keagamaan di Bali terintegrasi dan menjalin harmoni satu dengan yang lainnya sehingga potensi-potensi perpecahan dapat diminimalkan.

















Dr. Made Redana saat berforo bersama tim penguji



Tim Penguji



Ujian terbuka yang berlangsung sekitar satu setengah jam dipimpin oleh Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. Promotor, kopromotor, dan penguji yang hadir dalam ujian terbuka tersebut berturut-turut adalah Prof. Dr. A.A. Wirawan, S.U., Prof. Dr. I Gde Parimartha, M.A., Prof. Dr. A.A. Anom Kumbara, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, S.H., M.S., Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., Prof. Dr. I Made Suastika, S.U., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., dan Dr. Industri Ginting Suka, M.S.

 


Putu Eka Guna Yasa