Mengenal Budaya Bali melalui Pengalaman Langsung, Peserta Social Anthropology FIB Unud Ikuti Rangkaian Cultural Activities
DENPASAR – Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana (FIB Unud), melalui Program Social Anthropology Semester Ganjil 2026/2027 (Autumn 2026) menyelenggarakan serangkaian kegiatan kebudayaan (Cultural Activities) yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengenal dan mempelajari kebudayaan Bali secara langsung. Rangkaian kegiatan yang berlangsung sepanjang September hingga Oktober 2026 ini menghadirkan pengalaman pembelajaran budaya melalui praktik mengenakan busana adat Bali, membuat sarana persembahyangan, mengenal aksara dan lontar, membatik, mempelajari tari tradisional, hingga mengikuti tradisi perayaan Hari Raya Saraswati.
Rangkaian Cultural Activities tersebut dilaksanakan dalam lima agenda kegiatan, yakni pada 10 September, 17 September, 1 Oktober, 15 Oktober, dan 31 Oktober 2026. Setiap kegiatan dirancang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bali sekaligus memberikan pemahaman mendalam mengenai nilai filosofis, simbol, dan praktik tradisi yang terus dilestarikan dalam kehidupan masyarakat.
Kegiatan pertama yang dilaksanakan pada Kamis, 10 September 2026, mengangkat tema pengenalan busana adat Bali dan pembuatan sarana persembahyangan. Para peserta mempelajari tingkatan penggunaan busana adat Bali—mulai dari nista, madya, hingga utama—beserta fungsi dan maknanya dalam berbagai kegiatan adat maupun keagamaan. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan praktik membuat canang dan kewangen, mengenakan busana adat Bali, serta menghaturkan canang dan mengikuti persembahyangan di Padmasari Kampus FIB Unud, Jalan Pulau Nias, Denpasar. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman langsung mengenai hubungan erat antara busana adat, sarana upacara, dan kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Pada Kamis, 17 September 2026, kegiatan kedua dilanjutkan dengan pengenalan aksara Bali dan warisan manuskrip lontar. Peserta mempelajari bentuk dan susunan aksara Bali serta tradisi penamaan anak berdasarkan urutan kelahiran dalam masyarakat Bali. Mereka juga berkesempatan mengunjungi Unit Lontar FIB Unud untuk melihat berbagai koleksi naskah lontar dan mengenal prasi, yakni karya seni berupa lukisan atau ukiran pada daun lontar. Kegiatan semakin menarik ketika peserta mempraktikkan penulisan nama menggunakan aksara Bali dan memperoleh kenang-kenangan berupa nama lengkap masing-masing yang diukir pada bilah lontar.
Memasuki bulan Oktober, rangkaian Cultural Activities menghadirkan kegiatan ketiga berupa pembelajaran seni membatik pada Kamis, 1 Oktober 2026. Peserta diperkenalkan dengan keberagaman motif batik dari berbagai daerah di Jawa dan Bali, termasuk perkembangan batik sebagai hasil interaksi dan akulturasi budaya. Pengaruh budaya Tionghoa, Eropa, Persia, dan India turut menjadi bagian dari pembahasan untuk memperlihatkan dinamika perkembangan seni batik. Setelah mengenal berbagai peralatan dan teknik dasar, peserta mempraktikkan proses membatik secara langsung pada kain. Aktivitas ini memberikan pengalaman mengenai batik sebagai warisan seni yang merepresentasikan kreativitas, sejarah, dan perjumpaan antarbudaya.
Selanjutnya, pada Kamis, 15 Oktober 2026, peserta mengikuti kegiatan keempat berupa pembelajaran tari Bali yang diawali dengan pengenalan klasifikasi tari berdasarkan fungsinya, yaitu tari wali, bebali, dan balih-balihan. Mereka kemudian mempraktikkan gerakan dasar tari Bali, seperti agem, gerakan tangan, mata, dan kaki, sekaligus mengenal perbedaan karakter gerak tari perempuan, laki-laki, dan bebancihan. Kegiatan berlangsung interaktif dan menjadi ruang pertukaran budaya ketika peserta turut menampilkan video tarian tradisional Halling atau Hallingdans.
Seluruh rangkaian Cultural Activities ditutup dengan kegiatan kelima pada Sabtu, 31 Oktober 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Saraswati dan Upacara Pujawali di Padmasari FIB Unud. Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan dengan tradisi pembuatan gebogan, yaitu susunan buah-buahan dan kue yang ditata menyerupai bentuk gunung sebagai sarana persembahan. Dengan mengenakan busana adat Bali, peserta mempraktikkan penyusunan gebogan sebelum menghaturkannya di hadapan patung Dewi Saraswati dan Padmasari Kampus FIB Unud. Mereka juga menyaksikan pementasan tari wali serta mengikuti prosesi persembahyangan Panca Sembah (kramaning sembah). Kegiatan diakhiri dengan menikmati bersama persembahan yang telah selesai dihaturkan (lungsuran), menciptakan suasana kebersamaan dalam pengalaman belajar lintas budaya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Program Social Anthropology FIB Unud memperlihatkan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dalam memahami kebudayaan. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga terlibat secara langsung dalam berbagai praktik seni, tradisi, dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sebagai ruang pembelajaran dan pertukaran budaya yang mempertemukan pengetahuan akademis dengan kekayaan tradisi lokal. Melalui interaksi langsung dengan warisan budaya Bali, peserta diharapkan dapat mengembangkan pemahaman serta apresiasi yang lebih mendalam terhadap keberagaman budaya dan pentingnya pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan masyarakat global.


UNIVERSITAS UDAYANA