Bahas tentang Sejarah di Era Humaniora Digital, FIB Unud Gelar FIB DigiTalk ke-9
Pada Jumat, 10 Oktober 2025, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana menyelenggarakan FIB DigiTalk ke-9 secara daring melalui Zoom Meeting. FIB DigiTalk kali ini diselenggarakan kesembilan kalinya dan mengangkat topik bahasan “Sejarah di Era Digital Humanities: dari Demokratisasi Arsip ke Perdebatan Epistemologis”. Pembicara tamu dalam kegiatan ini adalah Dr. Eka Ningtyas, seorang sejarawan yang juga merupakan Kepala Laboratorium Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Acara dipandu oleh moderator, I Kadek Surya Jayadi, S.S., M.A., yang merupakan salah satu dosen dari Program Studi Ilmu Sejarah, FIB Unud. Peserta pada FIB DigiTalk kali ini berasal dari kalangan dosen, mahasiswa, serta para penggiat budaya dan sejarah. Acara diawali dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana yang pada kesempatan kali ini diwakili oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Perencanaan, FIB Unud, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan bahwa kegiatan FIB DigiTalk ini merupakan salah satu upaya untuk merayakan dan mendiskusikan singgungan ilmu budaya dengan teknologi. Beliau juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Dr. Eka Ningtyas, selaku narasumber, yang telah berkenan untuk membagikan ilmu kepada para peserta FIB DigiTalk yang cukup beragam. Beliau berharap semoga kegiatan ini dapat membuka wawasan mengenai bagaimana menjadi arsitek data dan pencipta pengalaman sejarah digital.
Dalam sesi pemaparan, Dr. Eka Ningtyas mengungkapkan ketertarikannya pada topik bermula dari kesulitan yang dialami dalam mengumpulkan data untuk disertasinya pada masa COVID-19, dikarenakan belum masifnya digitalisasi data-data yang dibutuhkan. Hambatan ini kemudian membawa pembicara untuk bertemu dengan para tokoh-tokoh yang menggawangi proyek besar, yaitu digitalisasi Perpustakaan Nasional Indonesia. Beliau berkesempatan untuk melihat secara langsung proses digitalisasi ini. Menurutnya, proses digitalisasi mengubah cara kerja manual sejarawan menjadi lebih cepat dengan teknologi OCR. Selanjutnya, teknologi sendiri ini tentu diharapkan akan mempermudah, namun apakah proses ini dapat mendistorsi informasi perlu diperhatikan. Untuk itu, perlu adanya metode yang lebih komprehensif dalam menghadapi digitalisasi. Menurut pembicara, penggunaan arsip digital tanpa bantuan OCR lebih aman, karena hal ini mendekati tata cara yang dilakukan dengan kunjungan langsung ke perpustakaan.
Beberapa perdebatan epistemologis yang muncul mengenai digitalisasi ini. Pembicara menyebutkan bahwa digitalisasi dapat berarti sebuah distorsi dimana arsip digital kehilangan aroma dan rabaan yang merupakan bagian dari kritik eksternal yang dilakukan para sejarawan. Contoh mengenai bagaimana arsip digital ini tidak inklusif. Beliau menyebutkan bahwa salah satu proses digitalisasi budaya tidak inklusif karena tidak dapat diakses oleh pemilik budaya. Hal ini kemudian menghasilkan risiko baru yaitu alienasi masyarakat dari budayanya. Dr. Eka Ningtyas juga mengungkapkan bahwa digitalisasi menghasilkan horizon baru bagi riset dengan distant reading. Beliau kembali menekankan akan perlu adanya metodologi yang lebih komprehensif. Beliau menutup presentasinya dengan menyebutkan bahwa sejarah harus kritis dan kreatif dalam menggunakan sumber-sumber yang berdasarkan digital.
Agenda dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta mempertanyakan tentang proses dekolonisasi arsip digital sejarah, kemudian seberapa mungkin sebuah proyek digitalisasi sejarah mendapat dukungan hibah, dan apabila hibah berakhir apakah masih memungkinkan untuk dilanjutkan. Ada pula peserta yang menanyakan tentang, bagaimana sejarawan dapat memastikan keaslian sejarah sejalan dengan sumber aslinya ketika digitalisasi arsip sejarah itu dapat diakses secara bebas. Pada penghujung acara, Gede Primahadi Wijaya Rajeg, Ph.D., selaku ketua pelaksana kegiatan menyerahkan sertifikat kepada pembicara dan moderator, yang kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.



UNIVERSITAS UDAYANA