Meneliti Papan Nama Coffee Shop di Padang, Dosen Akademi Maritim Sapta Samudra Padang Raih Gelar Doktor di FIB Unud

Dosen Akademi Maritim Sapta Samudra Padang berhasil meraih gelar doktor di Program Doktor Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melalui ujian terbuka pada Senin, 15 Juli 2024 di ruang Dr. Ir. Soekarno. Mahasiswa bernama Mauli Denil, S.Hum., M. Hum. dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”. Mauli Denil, S.Hum., M. Hum merupakan lulusan doktor ke 215 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan doktor ke 235 di Program Linguistik.



Disertasi yang diujikan berjudul “Papan Nama Coffee Shop di Ruang Publik Kota Padang: Kajian Lanskap Linguistik”. Disertasi ini menjelaskan bentuk lingual dan pilihan bahasa pada papan nama coffee shop, kategori makna dan penamaan coffee shop di Kota Padang, peta penggunaan bahasa pada papan nama coffee shop, dan motif penggunaan bahasa yang dominan berdasarkan peta bahasa dalam kajian lanskap linguistik. Disertasi ini memperoleh hasil bahwa bahasa lingual yang dipakai pada papan nama coffee shop di ruang publik kota Padang terdiri atas kata, frasa dan klausa. Bentuk kata ditemukan berupa kata tunggal, kata berimbuhan, blending, akronim, dan singkatan. Bentuk kata ini didominasi oleh kata dasar. Sementara itu, bentuk frasa ditemukan berupa frasa nomina diikuti dengan adjektiva, adverbia, numeralia, akronim, dan frasa dengan kesalahan penulisan. Terakhir, bentuk klausa juga ditemukan dengan struktur S+Predikat verba dan Subjek+Predikat nonverba.



Hasil pemetaan penggunaan bahasa pada papan nama coffee shop adalah bahasa Indonesia dan Inggris dalam bentuk monolingual, bilingual hingga multilingual mendominasi di daerah persebaran papan nama coffee shop, seperti kawasan pusat kota, pariwisata, dan kampus. Sementara itu, bahasa Minangkabau sebagai lokal menjadi bahasa ketiga terbanyak ditampilkan pada papan nama coffee shop.Disertasi ini memenemukan beberapa aspek yang memengaruhi penggunaan bahasa yang dominan seperti wilayah, modernitas, gengsi, elegan, wisatawan, identitas budaya, peraturan pemerintah. Berdasarkan hal tersebut, motif dari penggunaan bahasa yang dominan didasari tujuan ekonomi atau komersial, yaitu dipercaya dapat menarik perhatian dan meyakinkan konsumen agar angka penjualan menjadi naik.



Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A. selaku promotor menyampaikan disertasi ini merupakan salah satu kemajuan dari bidang linguistik landskap karena pertama kali analisis menggunakan perangkat lunak. “Penggunaan bahasa diruang publik selalu termotivasi dan selalu mengindeks sesuatu apa yang terjadi di masyarakat maka disertasi ini bisa menjadi rujukan untuk mencari implikasinya dan pengembangan linguistik lanskap.” pungkas Prof. Artawa. (Agt)