Penyerahan kenang-kenangan kepada perwakilan LRBI FIB UI dan Gerkatin Bali.


Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana bekerja sama dengan Laboratorium Riset Bahasa Isyarat (LRBI) Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin Bali) menyelenggarakan Seminar Sehari Bahasa Isyarat.


Seminar bahasa isyarat yang bertema “Pengembangan Bahasa Isyarat dalam Media Komunikasi Sosial dan Proses Belajar-Mengajar”, berlangsung Jumat, 1 November 2019, bertempat di Ruang Ir. Soekarno kampus FIB Unud, Sanglah, Denpasar.  


Peserta seminar .

 

Acara ini diikuti sekitar 120 orang yang terdiri dari perwakilan LRBI Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Gerkatin Bali, peneliti bahasa Isyarat, dosen, dan mahasiswa FIB Universitas Udayana.

 

Dukungan FIB Unud

Acara ini dibuka oleh Wakil Dekan I FIB Unud, I Nyoman Arya Wibawa, Ph.D. WD I menyatakan bahwa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana mendukung kegiatan sosialisasi tentang peran bahasa isyarat dalam media publik ini.


Wakil Dekan I FIB Unud, I Nyoman Aryawibawa, Ph.D.

 

“Kegiatan ini membuka ruang bagi pengenalan, pengajaran, dan penelitian bahasa isyarat kepada masyarakat umum, komunitas Tuli serta akademisi yang diinisiasi oleh Laboratorium Riset Bahasa Isyarat, Universitas Indonesia,” ungkap WD I.

 

WD I berharap bahwa kegiatan ini dapat memberikan wawasan dan pencerahan, khususnya bagi dunia akademisi yang berkecimpung dalam penelitian, pembelajaran, dan aplikasinya.


Narasumber penuh antusias.

 

Nara Sumber

Lima narasumber yang menyampaikan makalahnya adalah: Adhi Kusumo Bharoto (LRBI FIB UI), M. Umar Muslim, Ph.D. (LRBI FIB UI) dengan materi yang berjudul “Peran Bahasa Isyarat dalam Ranah Sosial dan Pendidikan”;

 

Ni Putu Luhur Wedayanti, S.S.,M.Hum. (FIB Udayana), dan Gede Ade Putra Wirawan, S. Kom. (Gerkatin Bali) dengan pemaparan yang berjudul “Perkembangan Penelitian Bahasa Isyarat Daerah Denpasar”;

 

Ni Luh Dewi Setiawati (Gerkatin Bali) dan Ketut Yunda Manik Wardani (Gerkatin Bali) dengan materi yang berjudul “Perkembangan Bahasa isyarat di Bali”.


Penyampaian materi oleh narasumber.

 

Peran Bahasa Isyarat

M. Umar Muslim, Ph.D. dari LRBI FIB UI memaparkan berbagai peran bahasa isyarat dalam ranah sosial maupun ranah pendidikan. Menurutnya bahasa isyarat menjadi salah satu identitas orang tuli.

 

“Bahasa ini memudahkan orang tuli berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Sehingga mereka merasa mempunyai jati diri dan percaya diri karena mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

 

Bahasa isyarat dalam ranah pendidikan memiliki peran untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan sebagai sarana mempercepat transfer pengetahuan.


Suasana tanya jawab.

 

“Dengan demikian, peserta didik tuli akan dapat mengembangkan diri dan perkembangan kognitifnya tidak terhambat,” tambahnya.

 

Pengembangan Bahasa Isyarat

Dalam seminar sehari ini juga terungkap bagaimana perkembangan bahasa Isyarat dewasa ini. Bahasa isyarat perlu dibina dan dikembangkan agar menjadi alat komunikasi yang efektif bagi orang tuli.


Peserta aktif dalam diskusi.

 

Orang tuli perlu difasilitasi dan diberi akses untuk menggunakan bahasa isyarat seluas-luasnya. Orang tua atau keluarga yang mempunyai anak tuli dan guru anak tuli perlu belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan anak tuli.

 

Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mendorong penggunaan bahasa isyarat dan menyediakan lebih banyak layanan dalam bahasa isyarat dalam berbagai bidang, misalnya pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya.

 

Bahasa Isyarat Indonesia

Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) adalah bahasa isyarat alami yang tumbuh dari kebudayaan asli Indonesia. Bisindo digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Bisindo terbentuk secara alami dalam komunitas Tuli setiap daerah, sehingga berfungsi sebagai bahasa Ibu yang otentik, serupa dengan bahasa saerah yang berkembang di setiap wilayah Indonesia.


Pentingnya bahasa isyarat.

 

Menurut dua pembicara terakhir, Seriawati dan Wardani dari Gerkatin Bali, perjuangan Bisindo diawali oleh alm. Bapak Siregar sejak tahun 1960 dan dilanjutkan oleh sebuah organisasi Tuli bernama Gerkatin.

 

“Organisasi ini bertujuan untuk memperjuangkan literasi kaum Tuli dalam Bahasa Indonesia melalui Bisindo. Bisindo telah disahkan oleh Presiden Indonesia dalam Pasal 42 UU No 8 tahun 2016,” jelas Seriawati dan Wardani (DM).