Dosen Akademi Pariwisata Denpasar Raih Doktor di FIB Unud

Doktor baru I Gede Astawa, S.Pd., M.Hum. dengan promotornya Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.


Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan promosi doktor atas nama I Gede Astawa, S.Pd., M.Hum. Jumat, (29/3/2019) bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

 

I Gede Astawa, S.Pd., M.Hum. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Ekosofi Tri Hita Karana dalam Awig-Awig Desa Adat Tenganan Pegringsingan: Analisis Ekolinguistik Kritis”. Dosen Akademi Pariwisata Denpasar ini lulus dengan predikat dengan pujian. Ia merupakan doktor ke-57 di Lingkungan Fakultas Ilmu Budaya dan yang ke-142 di lingkungan Prodi S3 Ilmu Linguistik Universitas Udayana.



Doktor baru dengan tim penguji.


 

Tim Penguji

Sebagai pimpinan sidang pada promosi doktor kali ini adalah Prof. Dr. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A. Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A. (Promotor); Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Kopromotor I); Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum. (Kopromotor I); Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A.; Prof. Dr. I Nyoman Kardana, M.Hum.; dan Dr. Made Sri Satyawati, M.Hum.

 

Konsep ‘the Stories We Live by’

 

Dalam pemaparan disertasinya Astawa menyatakan bahwa penelitiannya merujuk pada konsep the stories we live by ‘kisah-kisah hidup’ dalam kajian ekolinguistik. Kisah-kisah hidup tersebut dapat muncul di berbagai teks yang mengitari kehidupan manusia; salah satunya adalah awig-awig ‘hukum adat’.



Promotor Prof. Budiarsa.

 

“Pada umumnya, awig-awig yang disusun berpedoman kepada filosofi ekologis (ekosofi) yang terkait dengan lingkungan alam(palemahan), lingkungan sosial (pawongan), dan lingkungan rohani (parhyangan) yang disebut Tri Hita Karana (THK),” jelas lulusan S2 Universitas Warmadewa ini.

 

Wacana Eko-Spiritual

 

Astawa mengungkapkan bahwa terdapat kebaruan temuan secara teoritis pada penelitiannya, yakni ditemukannya cerita-cerita yang menyokong pelestarian lingkungan dalam Awig-Awig Desa Adat Tenganan Pegeringsingan dalam perspektif spiritual. Peran agama Hindu yang dianut oleh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan melalui upacara/ritual yang dilaksanakan mempunyai kontribusi positif yang disebut “Wacana Eko-Spiritual”.



                                                Doktor I Gede Astawa, S.Pd., M.Hum.

 

Selain ideologi yang bersifat preservatif, cerita-cerita tersebut juga menyikap ideologi yang bersifat destruktif terhadap lingkungan. Ideologi-ideologi yang bersifat preservatif dalam Awig-Awig Desa Adat Tenganan Pegeringsingan menjadi wacana positif yang terus terpelihara dengan baik sampai saat ini. Sementara itu, ideologi yang bersifat destruktif, seperti pengusiran terhadap keluarga yang memiliki anak kembar buncing, hukuman mati, pengucilan, dan yang destruktif lainnya tidak lagi dipraktikkan oleh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan.

 

Makna Disertasi

 

Tentang makna disertasi, promotor Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A. menyatakan bahwa disertasi ini banyak mengulas mengenai bagaimana ekosofi Tri Hita Karana dalam Awig-Awig Desa Adat Tenganan Pagringsingan dengan analisis ekolinguistik.

 

“Di sini ia banyak mengungkapkan bagaimana peran bahasa dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kehidupan manusia. Tanpa Bahasa, apa pun fenomena alam, fenomena yang terjadi di dunia ini tidak akan pernah terwujud,” jelas Prof. Budiarsa.


Teman dan keluarga.

 

Menurut Prof Budiarsa terdapat dua peran bahasa, yaitu 1) peran yang nyata, yaitu bagaimana manusia bisa menyampaikan fenomena alam, fenomena kehidupan manusia yang dapat kita lihat atau yang tangible 2) menyampaikan beberapa hal yang tidak terlihat atau intangible juga kita ungkapkan dengan bahasa.

 

Peran bahasa dalam kehidupan sangat penting, terutama bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama, dan hubungan kita dengan lingkungan (DM).