Doktor baru (tengah) berfoto bersama dengan para penguji.


Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor atas nama I Dewa Ayu Sri Suasmini, S,Sn.,M.Erg., Jumat, 23 Agustus 2019 bertempat di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

 

Sri Suasmini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Fesyen Kebaya ke Pura Agung Jagatnatha sebagai Representasi Perempuan Kontemporer di Kota Denpasar”.

 

Tim Penguji


Sebagai ketua penguji sekaligus Promotor pada ujian terbuka kali ini adalah Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A. Anggota Penguji terdiri dari Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, M.S.,M.M.,M.Mis.D.Th.,Ph.D.,D.Ag. (Kopromotor I); Dr. Ni Made Wiasti, M.Hum. (Kopromotor II); Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U.; Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S.; Dr. Ginting Industri Suka, M.S.; Dr. Ni Luh Arjani, M.Hum.; dan Dr. Bambang Dharwiyanto Putro, M.Hum.


Promotor Prof. Dr I Wayan Ardika memberikan tanda lulus kepada doktor baru.

 

Perkembangan Fesyen Kebaya


Penelitian Sri Suasmini dilatarbelakangi oleh perkembangan fesyen kebaya ke pura di Kota Denpasar, yang sekarang ini sudah ke luar dari pakem berbusana ke pura.

 

Menurut Dosen berprestasi ISI Denpasar ini, kaum perempuan kontemporer cenderung ingin memiliki kebaya model baru agar bisa tampil ideal dan fashionable saat sembahyang ke Pura Agung Jagatnatha Denpasar.


Dr. Sri Suasmini

 

Hasil penelitian Sri Suasmini menunjukkan bahwa alasan fesyen kebaya ke pura sebagai representasi kaum perempuan kontemporer di Kota Denpasar diakibatkan oleh kuatnya globalisme. “Perempuan di Kota Denpasar selalu ingin tampil trendi pada saat sembahyang ke Pura Agung Jagatnatha,” katanya.

 

Implikasi dari representasi fesyen kebaya ke pura bisa dilihat dalam tiga aspek yaitu, secara sosial kaum perempuan lebih mementingkan penampilan yang fashionable. Secara kebudayaan terjadi perubahan gaya hidup serba cepat dan secara ekonomi terjadi peningkatan konsumsi kebaya.

 

Temuan Disertasi


Temuan teoritis dari penelitian Sri Suasmini adalah representasi fesyen kebaya ke Pura yang dilakukan oleh kaum perempuan kontemporer di Kota Denpasar, sesuai dengan teori Stuart Hall bahwa representasi adalah proses untuk memproduksi makna untuk menunjukkan identitas pemakainya.


Hadirin saat ujian terbuka.

 

Temuan secara empiris adalah fesyen kebaya ke pura yang direpresentasikan oleh kaum perempuan kontemporer saat melakukan persembahyangan di Pura Agung Jagatnatha di kota Denpasar cenderung melupakan etika berbusana ke pura akibat representasi diri untuk menunjukkan status atau identitas diri (dm).