Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat meraih gelar doktor Ilmu Linguistik di Prodi Doktor Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana setelah dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (dengan pujian) dalam promosi doktor pada hari Jumat, 24 Juli 2020.


Di masa adaptasi kebiasaan baru (New Normal) akibat pandemi Covid-19, acara tersebut masih dilaksanakan secara daring melalui aplikasi webex dan disiarkan secara langsung di akun youtube Fakultas Ilmu Budaya.


Yendra, S.S., M.Hum., berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Coretan Lingual di Ruang Publik Kota Padang: Kajian Lansekap Linguistik”.


Kelulusannya tercatat sebagai doktor ke-168 pada Prodi Doktor Ilmu Linguistik dan sebagai doktor ke-95 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.


Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. sebagai Pimpinan Sidang.


Acara promosi doktor tersebut dipimpin oleh Ibu Dekan FIB Unud Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., dengan promotor dan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., selaku Promotor; Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suparwa, M. Hum., selaku Ko-promotor I; dan Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., selaku Ko-promotor II serta penguji Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum.; Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Prof. Dr. I Wayan Simpen, M. Hum.; Dr. Drs. Anak Agung Putu Putra, M. Hum.; dan Prof. Dr. Oktavianus, M. Hum.


Fokus Penelitian dan Temuan


Yendra, S.S., M.Hum., dalam presentasinya menjelaskan bahwa objek penelitian disertasinya berkaitan dengan aksi coret-coretan ruang publik di Kota Padang.


Berdasarkan observasi di beberapa wilayah di kota tersebut ditemukan bahwa banyak coretan yang terpampang di ruang publik dengan berbagai bentuk, baik berupa mural, graffiti, maupun coretan bebas street art yang ditampilkan di pagar tembok, di dinding-dinding rumah atau gedung, di dalam gang dan lorong, bahkan di sepanjang jalan- jalan utama.




Bertitik tolak dari masalah tersebut, ia mengangkat tiga masalah utama dalam penelitiannya: 1) bagaimanakah bentuk coretan lingual di ruang publik Kota Padang?; 2) bagaimanakah kategori pemaknaan pada coretan lingual di ruang publik Kota Padang?; dan 3) bagaimanakah eksplanasi coretan lingual di ruang publik Kota Padang dalam perspektif analisis wacana kritis.


Dengan menggunakan teori Lansekap Linguistik dan teori Analisis Wacana Kritis sebagai teori payung serta dibantu teori penunjang seperti teori bentuk Linguistik, Semantik, Pragmatik, dan Semiotik, peneliti menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut.


Pertama, berdasarkan analisis data, didapatkan bahwa terdapat dua kategori bentuk Coretan Lingual (CL) di ruang publik Kota Padang, yaitu: (1) bentuk CL berdasarkan sub-sistem bahasa, dan (2) bentuk CL berdasarkan komposisi bahasa yang digunakan.



Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. sebagai Penguji sedang Memberikan Pertanyaan.


Bentuk CL berdasarkan sub-sistem bahasa sebagian besar ditampilkan dalam bentuk kata dan kalimat dan sebahagian kecilnya lagi ditampilkan dalam bentuk frasa dan paragraf. Sementara itu, berdasarkan komposisi bahasa yang digunakan, secara umum CL ditampilkan dalam bentuk monolingual, bilingual, dan multilingual.


Kedua, berdasarkan investigasi dan analisis kategori makna yang ditampilkan pada CL di ruang publik Kota Padang, didapatkan tiga jenis pemaknaan yang digunakan, yaitu: makna linguistik, makna kontekstual, dan makna simbolik.


Promovendus Yendra, S.S., M.Hum., menjawab pertanyaan penguji.


Ketiga, telaah CL di ruang publik Kota Padang dari perspektif Analisis Wacana Kritis, menemukan bahwa CL merupakan suatu bentuk praktik penggunaan bahasa yang mengkonstruksikan suatu wacana melalui tanda di ruang publik.


Tanda-tanda tersebut  hadir di ruang publik Kota Padang sebagai suatu ekspresi yang mengkonstruksikan suatu wacana sebagai suatu upaya untuk menggambarkan suatu realitas sosial. Ekspresi tersebut mencoba memotret permasalahan yang kerap terjadi dan mendominasi masyarakat urban mencakup masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya.


Usai presentasi, satu persatu pertanyaan dewan penguji dijawab oleh Yendra, S.S., M.Hum., dengan landasan akademis yang kuat serta pemahaman terintegrasi antara realitas kebahasaan dengan teori yang diterapkan.


Sambutan Promotor, Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A.


Epilog dari Promotor


Temuan-temuan penelitian tersebut mengantarkan Yendra, S.S., M.Hum.,   mendapatkan gelar tertinggi akademik dalam ilmu linguistik. Prof. Dr. Ketut Artawa, M.A., dalam sambutan singkatnya tentang makna disertasi menyampaikan bahwa disertasi tersebut merupakan kajian pertama tentang penggunaan bahasa di ruang publik dengan memanfaatkan teori Lansekap Linguistik di Prodi Ilmu Linguistik FIB Unud.


Beliau juga berpesan kepada promovendus bahwa menyandang gelar doktor memiliki tanggung jawab akademis dan sosial. Dengan tanggung jawab yang diemban dengan baik itu, promovendus secara tidak langsung akan mengharumkan nama pribadi, keluarga, instansi tempat bekerja, dan lembaga Prodi Ilmu Doktor Linguistik FIB Unud (Guna).