Dr. Nirmalasari, S.Pd.,M.Hum. meriah gelar doktor usai ujian terbuka, 31 Januari 2019.


Program Studi Doktor (S3) Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana menggelar Promosi Doktor atas nama Nirmalasari, S.Pd.,M.Hum., Kamis 31 Januari 2019 di ruang Ir. Soekarno kampus setempat.

 

Nirmalasari, dosen Universitas Halu Oleo, Kendari, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Bahasa Lingkungan Ke-Kaghati-an Guyub Tutur Bahasa Muna: Kajian Ekolinguistik”. Ia merupakan doktor yang ke-54 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

 

Berfoto bersama dewan penguji.


Tim Penguji

Bertindak sebagai ketua sidang promosi doktor kali ini adalah Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum. Anggota penguji terdiri dari Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Promotor); Prof. Dr. I Wayan Simpen, M.Hum (Kopromotor I), Dr. Anak Agung Putu Putra, M.Hum. (Kopromotor II), Prof. Dr. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A.; Dr. Ni Made Dhanawaty, M.S.; Dr. Ni Made Suryati, M.Hum.; dan Dr. La Ino, M.Hum.

 

Kaghati sebagai Warisan Leluhur

Kaghati adalah layang-layang tradisional yang keseluruhan bahan baku materialnya diperoleh langsung dari lingkungan alam. Kaghati bagi guyub tutur Muna sebagai warisan budaya leluhur yang sarat makna dan kaya nilai.

 

Promotor Prof. Dr. Aron Meko Mbete mengenakan toga kepada doktor baru.


Nirmalasari menyatakan perlunya pelestarian, pendokumentasian, penganalisaan, dan pengembangan secara ilmiah dari perspektif ekolinguistik sehingga pengetahuan masyarakat penutur bahasa Muna dalam hubungan dengan bahasa lingkungan tidak punah.

 

Disertasi Nirmalasari mencoba untuk menemukan leksikon dalam lingkungan ke-kaghati-an, bentuk dan kategori leksikon tersebut yang mempresentasikan pengetahuan verbal masyarakat penutur bahasa Muna, dinamika pemahaman leksikon, ungkapan metaforis, pemali, dan mitos di lingkungan ke-kaghati-an antargenerasi, serta faktor-faktor yang melatarbelakangi dinamika khazanah leksikon, ungkapan metaforis, pemali, dan mitos di lingkungan ke-kaghati-an pada guyub tutur bahasa Muna.

 

Temuan

Dalam temuan disertasinya Nirmalasari menyatakan bahwa pemanfaatan lingkungan alam dalam bahasa lingkungan berhubungan erat dengan permainan tradisional guyub tutur Muna, yaitu kaghati kolope yang keseluruhan bahannya langsung diperoleh dari lingkungan alam.

 

“Hubungan bahasa dan kebudayaan ke-kaghati-an tersebut telah melahirkan sejumlah leksikon pemarkah sebagai bukti produk budaya dan bentuk kearifan lokal,” ujarnya.

 

Temuan lainnya berupa leksikon kakumboka, yang ternyata bukanlah tumbuhan parasit, ungkapan metaforis dan pemali ‘falia’, pemasangan roo kolope yang harus dilakukan secara hati-hati.

 

Ucapan selamat untuk doktor baru dan keluarga.


Nirmalasari juga menjelaskan adanya kesenjangan pengetahuan, pemahaman antargenerasi tentang bahasa lingkungan ke-kaghati-an pada guyub tutur Muna, dan kurangnya perhatian pemerintah daerah Muna dan masyarakat Muna terhadap pelestarian budaya kaghati, terutama perhatian khusus kepada para pande ghati yang jumlahnya sudah tidak banyak lagi sehingga tidak terjadinya proses pewarisan antargenerasi.

 

Penelitian Nirmalasari juga telah menghasilkan Kamus Ekoleksikon, Metafora, dan Pemali Ke-kaghati-an (dm).