Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) meraih gelar doktor Kajian Budaya di Prodi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana pasca dinyatakan lulus dalam promosi doktor pada hari Senin, 26 Juni 2020. Dalam situasi pandemi Covid-19 acara tersebut dilaksanakan secara daring melalui aplikasi webex.


Karolus Budiman Jama, S.Pd., M.Pd. berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Dekonstruksi Ruang Simbolik atas Matinya Estetika Caci Etnik Manggarai di Flores”.




Ia dinyatakan lulus dengan predikat “sangat memuaskan”. Kelulusannya tercatat sebagai doktor ke-227 di Prodi Doktor Kajian Budaya dan sebagai doktor ke-92 di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya.


Acara promosi doktor tersebut dipimpin oleh Ibu Dekan FIB Unud Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., dengan promotor dan tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. I. Wayan Ardika, M.A. (Promotor), I Prof. Dr. I Ketut Ardhana, M.A. (Kopromotor), Dr. I. Ketut Setiawan M. Hum., (Kopromotor II) dan anggota tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U., Prof. Dr. A.A. Ngurah Anom Kumbara, M.A., Dr. Industri Ginting Suka, M.S., Dr. Ida  Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Wayan  Suardiana, M.Hum.


Fokus Penelitian dan Temuan


Karolus Budiman Jama, S.Pd., M.Pd. dalam presentasinya menjelaskan bahwa objek penelitian disertasinya berkaitan dengan stetika Caci di Flores yang menjadi kekhasan identitas etnik Manggarai. Sebagai sebuah kesenian, estetika Caci menjadi puncak ekspresi dan masterpeace dari manifestasi dunia ide estetik etnik Manggarai.



Dekan FIB Unud, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., saat memimpin sidang promosi doktor.


Masalah yang diangkatnya dalam penelitiannya itu bertitik tolak pada komodifikasi terutama untuk industri budaya dan pariwisata dan ketahanan ideologi inklusif melalui inkulturasi oleh gereja katolik.

 

Tiga masalah yang diangkat dalam disertasi tersebut berkaitan dengan (1) estetika otentik Caci Tradisi sebagai pandangan dunia dan praktiknya dalam kehidupan etnik Manggarai di Flores, (2) Ideologi yang ada di balik pertunjukan estetika Caci kontemporer etnik Manggarai di Flores, dan makna ruang simbolik otentik Caci tradisi dan Caci kontemporer pada etnik Manggarai di Flores.




Melalui tiga masalah itu, ia menghasilkan temuan-temuan menarik dalam penelitiannya. Pertama, Ia menyatakan bahwa Caci merupakan tradisi yang otentik memiliki kekhasan estetik dalam pertunjukannya. Forma atau bentuk estetika Caci tradisi menempatkan lomes sebagai sebuah konsep estetika.


PeCaci yang memenuhi unsu-unsur estetik ini masuk dalam kategori lomes. Estetika caci tradisi tetap menjaga keontetikan (ursprung) ritual yang mitis magis dan bentuk pertunjukannya. Estetika Caci tradisi merupakan simpul konstruksi filsafat dalam imajiner mbaru gendang, natas labar, compang dari, wae teku dan uma duat.


Kedua, Tampilan estetika Caci kontemporer tidak berbeda dengan estetika Caci tradisi. Estetika Caci kontemporer hanya memindahkan lokasi pertunjukan dari panggung tradisi ke panggung populer, dari ruang sakral ke ruang profan. Ruang- ruang estetika Caci kontemporer menampilkan sisi jelas kepentingan eksistensi penyelenggara, baik Gereja Katolik di Manggarai maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai.


Ketiga, estetika Caci tradisi maupun kontemporer masing- masing mengartikan pertunjukan dalam ruang simbolik yang berbeda. Pertunjukan Caci tradisi sebuah dialektika pengetahuan estetik yang dilandasi komitmen pencarian tentang kebijaksanaan.


Epilog dari Promotor


Temuan-temuan penelitian itu mengantarkan Karolus Budiman Jama, S.Pd., M.Pd mendapatkan gelar tertinggi akademik.

Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., dalam sambutannya di penghujung acara mengucapkan selamat atas prestasi gemilang yang berhasil diraih oleh Karolus Budiman Jama, S.Pd., M.Pd.


Beliau juga berharap pasca menerima gelar tersebut, peran peneliti dalam bidang tersebut dapat dilanjutkan sehingga dapat juga bermanfaat pada lembaga tempatnya mengabdi di Universitas Nusa Cendana (Guna)