Pembicara dalam diskusi buku, dari kiri: Prof. Thomas Reuter, Prof. Darma Putra, dan Arif B. Prasetyo,M.Hum. (Foto-foto Dewa Catur/ Ida Ayu Laksmita Sari).



Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud melaksanakan acara bedah buku Rumah Leluhur Kami: Kelebihdahuluan dan Dualisme dalam Masyarakat Bali Dataran Tinggi (2018) karya Prof. Thomas Reuter, Jumat, 12 April 2019, di kampus setempat. Acara yang dibuka Dekan FIB Prof. Dr. Sujtiati Beratha berlangsung semarak, diikuti sekitar 250 peserta.

 

Tampil sebagai pembicara adalah Prof. I Nyoman Darma Putra (dosen FIB Unud), Arief B. Prasetyo (penerjemah Prof. Thomas Reuter (penulis buku), dengan moderator Drs. I Made Sujaya,SS, M.Hum.


Suasana seminar dengan banyak peserta.

 

Acara diskusi buku juga dimeriahkan dengan pameran Bali Aga oleh Prodi Antropologi. Dalam pameran dipajang skripsi mahasiswa tentang Bali Aga sejak beberapa tahun silam, buku kajian tentang Bali Aga, dan foto-foto tentang Bali Aga. Dekan FIB Unud mengapresiasi pameran ini.

 

Kerja Sama

 

Dekan FIB Unud Prof. Sutjiati Beratha menyambut baik diskusi buku karya Prof. Thomas. Disampaikan bahwa Prof. Thomas Reuter adalah dosen University of Melbourne (UM), yang sering datang ke FIB Unud untuk pelaksanaan kerja sama kuliah kolaborasi antara Asia Institute UM dengan FIB Unud.

 

“Program kuliah kolaborasi sudah berlangsung sukses dan lancar selama empat angkatan, sejak 2016,” ujar Prof. Sutji.

 

Dekan FIB Unud Prof. Dr. Sutjiati Beratha,M.A. memberikan kenang-kenangan kepada Prof. Thomas.


Dalam setiap angkatan Prof. Thomas dan kawan-kawan mengajak rata-rata 15 mahasiswa University of Melbourne untuk kuliah di FIB Unud, dalam program yang dikenal dengan nama “Analysing Indonesia”.

 

Mahasiswa FIB juga ikut kuliah dalam program ini sehingga mereka juga mendapat pengalaman internasional dan bergaul dengan mahasiswa dari Australia ini.

 

“Diskusi buku kali ini merupakan bentuk kerja sama lanjutan dari kerja sama akademik FIB Unud dengan Asia Institute University of Melbourne,” ujar Prof. Sutji.


Dekan FIB Prof. Sutjiati Beratha,M.A. (kanan) berfoto sebagian peserta seminar menjelang acara dimulai.

 

Dekan Prof Sutji berharap agar kerja sama akademik di bawah payung MoU antara Unud dengan UM bisa berlanjut ke dalam bentuk penelitian, publikasi, dan pertukaran mahasiswa dan dosen.

 

Diskusi Buku

 

Diskusi buku berjalan memikat penuh dengan diskusi dan komentar dalam dan hangat. Berikut adalah kutipan dari tulisan I Made Sujaya (moderator) yang sebelumnya dimuat di koran Denpost, Minggu, 14 April 2019. Diskusi diawali dengan pemaparan isi buku dari pengarang Prof. Thomas Reuter.

 

Budaya ulu-apad menjadi ciri khas masyarakat Bali Aga. Budaya ulu-apad semacam hierarki sosial berdasarkan senioritas dalam kepemimpinan kultural masyarakat Bali Aga. Para antropolog menyebut distribusi status sosial semacam ini menggunakan prinsip dasar kelebihdahuluan atau precedence.


Suasana diskusi, Prof. Ardika menyampaikan komentar dan pertanyaan.

 

“Hierarki yang didasari prinsip dasar ‘kelebihdahuluan’ menjadi salah satu ciri ‘masyarakat rumah’ yang banyak ditemukan pada masyarakat pengguna bahasa Austronesia,” kata antropolog dari Universitas Melbourne, Thomas Reuter saat berbicara dalam diskusi buku karyanya.

 

Reuter meneliti masyarakat Bali Aga di daerah Sukawana dan sekitarnya selama 1,5 tahun. Dia mencatat ada 52 desa Bali Aga yang masih kuat identitas kulturalnya.


Penanya Dr. Ngurah Suryawan.

 

Masyarakat Bali Aga itu, kata Reuter, biasanya terikat dalam jaringan ritual regional bernama banua. Salah satu jaringan ritual yang besar, yakni Pura Pucak Penulisan dengan Desa Sukawana sebagai pusatnya.

 

Etnografi yang Kuat

 

Buku Rumah Leluhur Kami diapresiasi sebagai karya yang mengagumkan. Darma Putra menyebut buku Reuter sebagai karya etnografi yang kuat. Reuter mampu menggabungkan dua pendekatan yang umum dalam studi etnografi, yakni pendekatan etik dan emik.

 

“Reuter membiarkan masyarakat Bali Aga berbicara sendiri dalam karyanya, tetapi juga tetap kritis melihat realitas,” kata Darma Putra.


Prof. Thomas menjawab pertanyaan.

 

Selain itu, menurut Darma Putra, Reuter berani menyampaikan perubahan yang ‘radikal’ dalam sebuah tradisi yang selama ini dianggap kuat, solid. Selama ini orang membayangkan masyarakat Bali Aga selalu kuat mempertahankan identitas kulturalnya.

 

Tetapi, Reuter dalam bukunya juga berani menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada banua-banua yang lebih kecil. Reuter menggunakan kritik di kalangan masyarakat Bali Aga sendiri untuk menggambarkan perubahan-perubahan yang terjadi.



Dua buku Bali Aga karya Thomas Reuter.


“Jadi Bali Aga juga bisa kita sebut, meminjam istilah Henk Schulte Nordholt, sebagai sebuah ‘benteng terbuka’. Di satu pihak benteng, tertutup kuat, tidak gampang direbut, tetapi juga terbuka. Di zaman sekarang, siapa yang bisa mempertahankan segalanya,” kata Darma Putra.

 

Dalam bahasannya, Darma Putra juga menyebut sejumlah hal yang di harap bisa menjumpai dalam buku ini yaitu pembahasan mengenai mata pencaharian masyarakat Bali Aga, makanan mereka, dan bahasa (dialek).

 


Kliping koran Denpost, Minggu, 14 April 2019.


“Ihwal makanan untuk ritual banyak dibahas tetapi buku tidak menguraikan soal makanan masyarakat. Tidak juga ada pekerjaan atau mata pencaharian masyarakat, padahal untuk bisa melaksanakan ritual yang begitu banyak, masyarakat pasti memerlukan dana yang diperoleh dari pekerjaan,” ujar Darma Putra.

 

“Ada kesan masyarakat Bali Aga pekerjaannya hanya berupacara. Mungkin ini memerlukan satu etnografi yang baru,” tambahnya.

 

Komentar Penerjemah

Sementara Arif menjelaskan alasan memilih menggunakan istilah ‘kelebihdahuluan’ sebagai padanan kata precedence daripada presedensi seperti digunakan dalam buku Custodians of the Sacred Mountains yang juga membahas kehidupan masyarakat Bali Aga di kawasan Kintamani.


Ketua Panitia Dr. Ida Ayu Laksmita Sari (kiri) berfoto bersama narasumber setelah menyampaikan sertifikat.

 

“Istilah kelebihdahuluan lebih bercita rasa Indonesia serta langsung mengasosiasikan pada konsep yang mendasari hierarki sosial dalam masyarakat Bali Aga,” kata Arif.

 

Guru besar arkeologi FIB Unud, I Wayan Ardika mengapresiasi buku Reuter. Menurut Ardika, buku Reuter membantu memahami dinamika masyarakat Bali Aga, terutama berkaitan dengan perubahan yang terjadi.

 

“Sukawana termasuk yang bertahan dengan identitas kulturalnya dalam konteks relasinya dengan budaya luar,” kata Ardika.

 

Ucapan Terima Kasih

 

Ketua panitia diskusi buku, Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum. M.Hum. menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah menyukseskan acara ini, termasuk ketua pelaksana program “Analysing Indonesia” FIB Unud I Nyoman Tri Ediwan,SS,M.Hum yang menyukseskan sacara ini.






Terima kasih juga disampaikan kepada Penerbit buku Obor yang menerbitkan buku Prof. Thomas dan kepada I Ketut Sutarwiyasa, S.Sn., M.Si. dosen Stiki Denpasar yang sedang menempuh program doktor di Prodi Kajian Budaya Unud yang mendesain spanduk dan materi promosi kegiatan diskusi buku (dm/jay).