Mendukung Mahasiswa Semester Akhir: Prodi Sastra Jepang Laksanakan Bimbingan dan Konseling dengan Psikolog

Denpasar, 20 April 2026 — Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana menyelenggarakan workshop bimbingan dan konseling yang berlangsung secara hybrid di Ruang Ir. Soekarno pada Senin, 20 April 2026. Acara yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa prodi Sastra Jepang, dengan moderator Dr. Silvia Damayanti, S.S., M.Hum. selaku Koordinator Program Studi Sastra Jepang. Workshop ini menghadirkan narasumber Ni Putu Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc. yang memberikan materinya secara online, sementara sekitar setengah peserta hadir secara offline dan setengahnya lagi mengikuti dari jarak jauh.

Dr. Silvia Damayanti selaku moderator menjelaskan latar belakang diselenggarakannya workshop ini, yaitu karena hampir 50 persen mahasiswa angkatan 2019 hingga 2023 belum menyelesaikan skripsi. Selain itu, ditemukan pula adanya gangguan psikologis yang mempengaruhi pengerjaan skripsi di kalangan mahasiswa. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., yang mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kehadiran narasumber. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa tantangan penyelesaian tugas akhir bukan hanya masalah teknis tetapi juga masalah mental dan ketahanan mental. Bagi mahasiswa, menurutnya, skripsi merupakan uji kemandirian untuk melihat apakah mereka mau bekerja keras, sementara bagi dosen, membimbing skripsi adalah sebuah seni. Beliau berharap melalui workshop ini dapat tercapai kerjasama yang positif antara dosen dan mahasiswa, serta mahasiswa dapat menyerap ilmu mengenai cara tidak burnout dan menjaga kesehatan mental dalam menyelesaikan tugas akhir. Pembukaan ditandai dengan kegiatan mengetuk mikrofon sebanyak tiga kali.

Pada sesi pertama yang diperuntukkan bagi dosen, narasumber Ni Putu Adelia Kesumaningsari, S.Psi., M.Sc. memaparkan berbagai hambatan psikologis yang sering dialami mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa saat ini cenderung lebih mengapresiasi diri sendiri, namun skripsi sering terasa seperti beban mental karena dianggap sebagai gerbang terakhir sebelum kelulusan. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyelesaian skripsi meliputi faktor kognitif, sikap kerja, kepribadian, dan faktor sosial seperti tekanan atau dukungan dari keluarga serta konflik di rumah. Narasumber juga mengidentifikasi empat tipe mahasiswa berdasarkan kombinasi motivasi dan kemampuan, yaitu Tipe A dengan kemampuan dan motivasi tinggi, Tipe B dengan motivasi kuat namun kemampuan kurang, Tipe C dengan kemampuan tinggi namun motivasi rendah, dan Tipe D dengan kemampuan dan motivasi sama-sama rendah. Menurutnya, tipe C dan tipe D adalah yang paling perlu diperhatikan agar tidak hilang dalam proses pengerjaan skripsi. Strategi yang disarankan antara lain weekly meeting, pendekatan personal, menyediakan tools dan resource, mendorong peer support atau dukungan antar teman, serta intervensi struktural institusional seperti retreat penulisan, workshop metodologi, bimbingan terstruktur, dan forum diskusi secara rutin.

Dalam sesi tanya jawab, seorang dosen mengajukan pertanyaan mengenai keterbatasan pembimbing dalam memberikan dukungan di luar hal teknis, misalnya ketika mahasiswa memiliki masalah keluarga. Dosen tersebut mengungkapkan kekhawatirannya bahwa empati yang diberikan tanpa aksi nyata dapat menjadi toxic positivity. Menjawab pertanyaan ini, narasumber menjelaskan bahwa memang sebagai pembimbing tidak bisa masuk ke ranah personal mahasiswa. Namun, pembimbing dapat mengakui permasalahan tersebut dengan mengingatkan mahasiswa bahwa jika skripsi tidak diselesaikan, hal itu hanya akan menambah masalah baru. Narasumber menyarankan agar dosen menyampaikan kepada mahasiswa bahwa ia ingin membantu menyelesaikan masalah skripsi tersebut sambil tetap menemani mahasiswa dalam prosesnya. Pertanyaan lain muncul mengenai mahasiswa yang tidak mau bertemu sama sekali karena berada di luar pulau dan tidak mau mengikuti bimbingan online. Narasumber menyarankan agar pihak kampus melibatkan orang tua jika permasalahan sudah lebih lanjut, terutama dalam bentuk surat peringatan.

Sesi kedua workshop ini diperuntukkan bagi mahasiswa dengan topik menyelesaikan skripsi tanpa burn-out, yang disampaikan oleh narasumber yang sama secara online. Materi dalam sesi ini disajikan lengkap melalui file presentasi yang dibagikan kepada peserta. Narasumber memberikan berbagai tips dan strategi bagi mahasiswa untuk menjaga kesehatan mental selama proses pengerjaan skripsi, menghindari rasa lelah berlebihan, serta tetap produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan psikologis. Sesi ini juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab di mana mahasiswa dapat berkonsultasi langsung mengenai kendala yang mereka hadapi.

Workshop ditutup dengan acara penyerahan sertifikat apresiasi kepada narasumber sebagai tanda terima kasih atas partisipasi dan ilmu yang telah dibagikan. Secara keseluruhan, workshop bimbingan dan konseling yang berlangsung selama lima hari ini diharapkan dapat membantu dosen dan mahasiswa Program Studi Sastra Jepang dalam menghadapi tantangan penyelesaian skripsi, baik dari sisi teknis maupun psikologis, serta memperkuat kerjasama positif antara keduanya.