Pembinaan Tari Baris Gede.


Prodi Magister dan Prodi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Sanggar Seni Tugek Carangsari, Kecamatan Petang, Badung Utara, Minggu, 15 Maret 2020. 

 

Kegiatan yang dipimpin oleh Korprodi Magister Kajian Budaya Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. ini diikuti para dosen dan mahasiswa dan anggota Sanggar Seni Tugek Carangsari.

 

Acara pengabdian diisi dua kegiatan utama yaitu pembinaan Tari Baris Gede dan diskusi sastra sebagai sumber seni pertunjukan.


Prof Suarka (kiri) menyerahkan sertifikat kepada Ketua Sanggar IGN Artawan.

 

Jumlah keseluruhan peserta pengabdian termasuk sekaa gamelan pengiring tarian mencapai 50 orang lebih.

 

Mendukung Regenerasi

 

Dalam sambutannya, Prof. Nyoman Suarka bahwa Sanggar Seni Tugek Carangsari sudah terkenal sejak lama, bahkan tahun 1970-an. Sejalan dengan perjalanan waktu, terjadi regenerasi dari tokoh awal, I Gusti Ngurah Windia, ke generasi penerusnya, putra beliau dan juga peminat lain dari desa setempat dan sekitarnya.

 

“Kami kagum, sanggar seni ini mampu terus eksis dan melibatkan generasi muda untuk meneruskan seni pertunjukan,” ujarnya.


Pemberian sambutan.

 

Seni pertunjukan topeng, prembon, dan juga tari-tarian yang ditekuni sanggar ini berkaitan erat dengan tradisi kegamaan. “Bukan semata hiburan, tetapi juga sanggar ini menekuni seni pertunjukan keagamaan,” ujar Prof. Suarka.

 

Dipilihnya Sanggar Seni Tugek Carangsari untuk kegiatan pengabdian adalah untuk ikut mendorong dan memberikan kontribusi dalam peningkatkan seni pertunjukan keagamaan kepada anggota generasi muda sanggar ini.


I Made Sudarsana (kanan) memberikan pembinaan.

 

Prof Suarka menambahkan bahwa pengabdian masyarakat merupakan salah dharma dari tridharma yang diemban perguruan tinggi. Tujuan kegiatan pengabdian adalah mendekatkan kampus khususnya mahasiswa kepada masyarakat agar mahasiswa memiliki kepekaan sosial serta mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.

 

Selalu Terbuka

 

Ketua Sanggar Seni Tugek Carangsari, I Gusti Ngurah Artawan, menyampaikan terima kasih atas program pengabdian Prodi S-2 dan S-3 Kajian Budaya FIB Unud. “Kami selalu terbuka untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota sanggar,” ujarnya.

 

Ketua Sanggar pada intinya menyambut kegiatan dan kegiatan pengabdian yang merupakan bentuk kepedulian mahasiswa dan kampus terhadap masyarakat. Dengan kegiatan ini sanggar merasa mendapat prestise, motivasi, dan inspirasi untuk berkembang lebih jauh.


Suasana pembukaan.


“Sekali lagi, atas nama sanggar, kami berterima kasih karena telah dipilih dan dijadikan lokasi pengabdian oleh Prodi Magister dan Doktor Kajian Budaya,” ujar I Gusti Ngurah Artawan.

 

Ketua Sanggar berharap berharap agar kegiatan seperti ini bisa dilanjutkan pada masa mendatang.

 

Dua Bentuk Pembinaan

 

Kegiatan pengabdian dilaksanakan secara serentak untuk dua bentuk pembinaan yaitu pembinaan tari keagamaan yang berlangsung di panggung sanggar, dan pembinaan sastra sebagai dasar seni pertunjukan dilaksanakan di ruang terpisah di areal sanggar.

 

Untuk kegiatan tari, pembinaan diberikan oleh mahasiswa S-3 Kajian Budaya, I Made Sudarsana. Anggota sanggar diajak untuk mendalami Tari Baris Gede, tarian upacara yang dalam perkembangannya banyak gerakan yang ditambah atau dimasukkan namun itu di luar standar.



 

“Kami mengajak anggota sanggar untuk memahami dasar gerak tari dan melakukan gerakan sesuai dengan standar. Semua berjalan lancar,” ujar Made  Sudarsana.

 

Di akhir pengabdian, anggota sanggar mendemonstrasikan tarian yang sudah dirapikan gerakannya. Ini adalah bukti nyata hasil dari binaan pengabdian ini.



 

Seni Sastra dan Pertunjukan

 

Pembinaan untuk bidang seni sastra dan pertunjukan diberikan langsung oleh Prof. Nyoman Suarka, diikuti sekitar 12 anggota sanggar. Mereka membahas berbagai karya sastra yang menjadi inspirasi seni pertunjukan, mulai dari lakon dan sastra sebagai sumber sejarah dan filsafat seni.



 

Peserta tampak antusias mengiktui diskusi, membuka wawasan mereka betapa eratnya kaitan antara sastra, seni pertunjukan, dan ritual keagamaan. Contohnya adalah seni pertunjukan topeng sidakarya, yang merupakan pertunjukan wajib pentas di rangkaian akhir sebuah upacara utama.

 

“Tanpa topeng Sidakarya, rangkaian ritual dianggap belum paripurna,” ujar Prof. Suarka. Sanggar Seni Tugek Carangsari selain terkenal karena senin pertunjukan prembon untuk hiburan, juga melayani pentas Topeng Sidakarya untuk ritual.

Pembinaan sastra untuk seni pertunjukan.

 

Kegiatan berjalan lancar diakhiri dengan penyerahan cenderamata dari Korprodi Prof. Suarka kepada Ketua Sanggar (darma).