Prodi Sastra Indonesia FIB Unud menerima Encik Putra, tamu dari Melaka, Malaysia.


Prodi Sastra Indonesia menerima kunjungan sarjana dari Melaka, Malaysia, untuk membahas perkembangan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

 

Tamu dari Malaysia yang bernama Encik Putra Mohd Nor Ridzwan bin Azhar diterima Korprodi Sastra Indonesia Dr. I Ketut Sudewa,M.Hum. dan dosen di ruang guru besar FIB Unud, Selasa, 24 September 2019.


Encik Putra dan Korprodi Dr. I Ketut Sudewa.

 

Pada kesempatan itu, Korprodi Dr. Sudewa menyambut baik kehadiran Encik Putra dan dengan senang hati melakukan diskusi seputar perkembangan bahasa Melayu dan Indonesia di Nusantara.

 

Encik Putra menyampaikan bahwa pihaknya adalah pegawai khusus dari Speaker Dewan Undangan Negeri Melaka.

 

Tujuan Kunjungan

 

Encik Putra menyampaikan bahwa tujuannya datang adalah untuk mendapatkan keterangan dan uraian mengenai penggunaan dan perkembangan bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nusantara. Selain itu, tujuannya adalah untuk mengenal sistem administrasi di Indonesia.


Suasana diskusi.

 

“Siapa tahu, nanti dari pertemuan ini, kita bisa melaksanakan seminar dan lokakarya untuk membahas bahasa Melayu lebih lanjut, kita bisa bekerja sama,” ujar Encik Putra.

 

Dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam, berlangsung tanya jawab mengenai perkembangan dan penggunaan bahasa Melayu dan Indonesia di Nusantara. Juga dibaha smengenai pengaruh kolonial dan pascakolonial atas perkembangan bahasa Melayu.

 

Dalam tanya jawab itu, Prof. I Nyoman Suparwa menyampaikan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa daerah di Indonesia. Eksistensinya tidak saja di Sumatera, tetapi juga di beberapa tempat, termasuk Melayu di Desa Loloan di Bali Barat.

 

Mengenai pengaruh kolonialisme dan kemerdekaan terhadap perkembangan bahasa Melayu, Dr. IB Jelantik Sutanegara menyampaikan bahwa antara bahasa Melayu, bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa penjajah dalam hal ini Belanda, saling mempengaruhi.

 

Menurut Encik Putra, di Malaysia, bahasa Jawi atau Arab Melayu mempengaruhi bahasa Melayu di Malaysia. Tentang hal tersebut di Indonesia, Prof. I Wayan Cika menyampaikan bahwa pengaruh Jawi secara langsung tidak ada.

 

“Sastra jenis kakawin tidak ada yang berbahasa Melayu. Yang ada, adalah sastra berbentuk geguritan yang menggunakan bahasa Melayu,” ujar Prof. Cika. Prof Cika menyampaikan ada lima geguritan Bali menggunakan bahasa Melayu seperti Geguritan Nengah Jimbaran.


Geguritan berbahsa Melayu itu merupakan contoh akulturasi bahasa karena dalam geguritan itu ada pengaruh bahasa lain termasuk Jawi atau Arab Melayu.


Dosen yang hadir dalam diskusi adalah Dr. I Made Madia, Dr. Ni Made Dhanawaty, Dr. IB Jelantik Sutanegara, Prof. I Wayan Cika, Prof. I Nyoman Suparwa, Prof. I Wayan Pastika, Prof. Ketut Dharma Laksana, dan Prof. I Nyoman Darma Putra.

 

Dalam akhir pertemuan, tamu Encik Putra dan Korprodi Dr. Sudewa saling memberikan kenang-kenangan (dp)