Suasana "ngayah magegitaan" Prodi Sastra Bali FIB Unud.

 

Bertepatan dengan hari suci Tilem pada Sabtu, tanggal 4 Mei 2019 Sekaa Santi Banawa Sekar Program Studi Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana ngayah magegitan di Pura Agung Lokanatha, Denpasar.

 


Acara ngayah magegitan yang dilakukan untuk pertama kali di Pura Lokanata tersebut diiringi oleh dinamis alunan gambelan geguntangan oleh UKM Satyam, Siwam, Sundaram FIB Unud.

 


Sekaa santi yang baru didirikan tanggal 6 Februari 2019 itu beranggotakan seluruh mahasiswa Program Studi Sastra Bali, terutama yang saat ini sedang duduk di semester IV.

 


Geguritan Basur

 


Sebuah karya sastra ciptaan Ki Dalang Tangsub yang berjudul Geguritan Basur ditembangkan bait demi bait oleh para mahasiswa di tengah-tengah para bakta yang mulai berdatangan untuk sembahyang.

 


Geguritan Basur selama ini dikenal berisi berbagai ajaran spiritual Bali seperti yang ditulis oleh peneliti C. Hooykass dalam buku Balinese Poem Basur An Introduction to Magic tahun 1974.

 


Akan tetapi, sekaa santi tersebut sepakat untuk meresitasi karya sastra itu karena di dalamnya juga ada nasihat tentang kewajiban sebagai generasi muda untuk beretos kerja tinggi namun tetap rendah hati. Pada karya sastra inilah ungkapan eda ngaden awak bisa ‘jangan menyombongkan diri’ yang populer itu secara lebih utuh dapat dibaca. 

 


Secara keseluruhan Geguritan Basur menggunakan pupuh ginada. Untuk menghindari kemonotonan nada, anggota sekaa santi menyanyikan pupuh ginada tersebut dengan tiga varian.

 


Varian-varian pupuh itu adalah pupuh ginada eman-eman, ginada candrawati, dan ginada linggar petak. Dengan memanfaatkan tiga varian pupuh ginada itu kesan Geguritan Basur yang identik dengan raudra rasa ‘rasa yang seram, menakutkan’ dapat dinikmati juga dengan rasa yang membangkitkan srenggara rasa ‘rasa cinta kasih’.

 


Belajar lewat Praktik

 

Ang

gota sekaa santi, Putu Gita Komala Putri menyatakan kesempatan untuk ngayah magegitan di Pura Agung Lokanata merupakan bagian dari learning by doing ‘belajar melalui praktik’.

 


“Menyanyikan karya sastra merupakan bagian dari proses pembatinan berbagai nilai kehidupan yang ada di dalamnya secara otomatis,” ujar Gita yang baru saja meraih juara dua dalam ajang lomba sloka Utsawa Dharma Gita se-Kabupaten Badung.

 


Sama dengan Gita, anggota sekaa santi lainnya seperti Neny Teramini menyatakan bahwa acara ngayah magegitan itu seperti me-recharging kemampuannya karena terakhir matembang ketika SD dalam acara siaran langsung di salah satu stasiun TV.



Mahasiswa dan dosen Prodi Sastra Bali saat "ngayah magegitaan".

 


“Saya ingin belajar matembang sebagai salah satu kompetensi utama yang patut dimiliki oleh mahasiswa Program Studi Sastra Bali,” ujar Neny.

 


Koordinator Program Studi Sastra Bali FIB Unud, Dr. Ni Made Suryati, M.Hum. mengharapkan agar mahasiswa dapat mempraktikkan berbagai pengetahuan yang didapatkan di kampus melalui pengabdian di masyarakat.

 


Ngaturang ayah dengan matembang merupakan manifestasi nyata dari penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat dan terutama kepada Dewi Pengetahuan itu sendiri, ” ujar Korprodi Sastra Bali.


 

“Dengan menyanyikan karya-karya sastra Bali, budaya literasi mahasiswa secara tidak langsung dapat diperkaya,” tambahnya [Putu Eka Guna Yasa]