Seminar Kajian Budaya (Narasi Budaya) Seri Ke-10 Bahas Relasi Kuasa dan Identitas dalam Pelestarian Adat dan Pendidikan Bahasa Perancis
Seminar Nasional Mahasiswa Kajian Budaya (Narasi Budaya) Seri Ke-10 diselenggarakan secara daring pada Jumat, 27 Februari 2026, dengan mengangkat tema hubungan kekuasaan dan identitas dalam pelestarian adat serta pembelajaran Bahasa Prancis. Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini diikuti oleh 53 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, alumni, dan peneliti, serta dipandu oleh moderator Andriko Sandria, mahasiswa S3 Kajian Budaya UNS Surakarta. Webinar merupakan kolaborasi antara Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Universitas Sebelas Maret. Acara dibuka oleh Koordinator Prodi S3 Kajian Budaya UNS, Prof. Dra. S.K. Habsari, M.Hum., Ph.D., yang menekankan bahwa kajian budaya berperan sebagai ruang analisis kritis terhadap relasi kekuasaan dalam praktik sosial sehari-hari, dan ditutup oleh Koordinator Prodi S3 Kajian Budaya FIB Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra, Ph.D.
Dua narasumber, IB Prajna Yogi dari S3 Kajian Budaya Universitas Udayana dan Sri Handayani dari S3 Kajian Budaya UNS, membahas relasi kekuasaan dalam konteks berbeda namun saling terkait. IB Prajna Yogi memaparkan dinamika adat masyarakat Dayak Tomun di Kalimantan Tengah melalui konsep Hidup Baadat dan Mati Bapati. Ia menjelaskan bahwa praktik adat menjadi arena kontestasi antara adat, agama Kristen Protestan, dan negara, yang memengaruhi pembentukan identitas masyarakat. Dengan pendekatan teori Michel Foucault, Pierre Bourdieu, dan Anthony Giddens, penelitian ini menunjukkan bahwa adat bukan sekadar warisan tradisional, melainkan praktik sosial yang terus dinegosiasikan dalam relasi kekuasaan, termasuk ketika adat dimanfaatkan dalam pembangunan dan pariwisata.
Sementara itu, Sri Handayani menyoroti pembelajaran Bahasa Prancis di perguruan tinggi sebagai ruang produksi budaya yang sarat relasi kuasa dan penyebaran ideologi Barat. Ia menemukan bahwa buku ajar Bahasa Prancis cenderung menampilkan dominasi budaya Prancis sehingga pembelajar Indonesia lebih banyak menyerap nilai budaya asing tanpa ruang refleksi terhadap identitas lokal. Melalui penelitian kualitatif di Universitas Negeri Semarang, Beliau menawarkan integrasi pedagogi kritis, literasi interkultural kritis, dan etnopedagogi agar pembelajaran bahasa tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga memperkuat kesadaran budaya lokal serta identitas pembelajar.
Diskusi berlangsung aktif dengan antusiasme peserta hingga akhir sesi. Dalam penutupannya, Prof. I Nyoman Darma Putra menilai kedua materi yang dipresentasikan sangat orisinal dan mampu mengkaji persoalan identitas serta pendidikan bahasa melalui pendekatan relasi kuasa secara mendalam. Ia juga menegaskan komitmen keberlanjutan seminar Narasi Budaya sebagai ruang belajar akademik yang ke depan akan melibatkan mahasiswa S2 dan S3 Kajian Budaya dari kedua universitas. Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber secara simbolis oleh moderator.


UNIVERSITAS UDAYANA