Kajian Diskursus KB Krama Bali pada Masyarakat Multikultur di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng Mengantar Dewa Nyoman Dalem Meraih Gelar Doktor
Pada hari Jumat, 13 Maret 2026, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana kembali menyelenggarakan Sidang Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Linguistik, Program Doktor. Sidang ini berlangsung di Ruang Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, Lantai IV, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Promovendus, Dewa Nyoman Dalem, S.Pd., M.Si., mempresentasikan disertasi berjudul “Pergulatan Diskursus KB Krama Bali pada Masyarakat Multikultur di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng”. Dalam sidang tersebut, promovenda berhasil mempertahankan disertasinya dan dinyatakan lulus dengan predikat “Cumlaude”. Dengan kelulusan ini, beliau tercatat sebagai doktor ke-278 (dua ratus tujuh puluh delapan) di Fakultas Ilmu Budaya dan doktor ke-304 (tiga ratus empat) pada Program Studi Doktor S3 Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.
Pada sidang promosi doktor ini, Ketua Tim Penguji Disertasi adalah Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., yang didampingi oleh Anggota Tim Penguji yaitu Prof. Dr. A.A.Ngh. Anom Kumbara, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si., Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., Dr. Ni Nyoman Dewi Pascarani, S.S., M.Si., Dr. Pande Wayan Renawati, S.H., M.Si., C.Ed., Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum
Disertasi ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis terhadap diskursus tentang Keluarga Berencana (KB) krama Bali di Sukasada, Buleleng, yang menunjukkan adanya dinamika sosial dalam masyarakat multikultur. Penerimaan dan penolakan terhadap KB muncul di tengah keberagaman etnis dan agama, seperti Bali, Bugis, dan Jawa atau Blambangan yang hidup berdampingan. Sikap tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kesehatan dan ekonomi, tetapi juga oleh nilai budaya, ajaran agama, dan posisi sosial masing-masing kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menelusuri, mengungkap, dan menganalisis relasi kuasa-pengetahuan yang bekerja dibalik proses penerimaan dan penolakan terhadap diskursus KB krama Bali, oleh masyarakat multikultur di Kecamatan Sukasada.
Penyebab terjadinya pergulatan diskursus KB krama Bali dikarenakan adanya pluralitas Ideologi, disposisi rasionalitas, hibriditas kultural dan negosiasi identitas, serta kinerja struktural. Adapun bentuk-bentuk pergulatan diskursus KB krama Bali berupa ketegangan antara nilai tradisional dan modern, paradoks otoritas simbolik antaraparatus, negosiasi agama dan identitas sosial, serta kontestasi wacana reproduksi antargenerasi. Implikasi yang muncul dari pergulatan diskursus KB krama Bali vii tersebut antara lain, fragmentasi makna keluarga ideal dalam konteks multikultur, dinamika politik tubuh perempuan dan resistensi diam diam, dislokasi makna tradisi dan terbentuknya tradisi baru yang simulatif, serta politik reproduksi dan pemosisian anak sebagai representasi proyek kebudayaan dalam masyarakat multikultur.
Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika sikap masyarakat terhadap program Keluarga Berencana (KB). Secara empiris, sebagian informan menyatakan penolakan terhadap KB pada tingkat pandangan atau keyakinan, namun dalam praktik tetap melakukan pengaturan kelahiran melalui jarak kelahiran alami atau penggunaan kontrasepsi secara tersembunyi. Sebaliknya, ada pula masyarakat yang secara lisan menyatakan menerima program KB, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tetap mempertahankan pola memiliki banyak anak karena pertimbangan adat, agama, maupun tuntutan sosial keluarga besar. Secara teoretis, temuan ini menunjukkan adanya penerimaan yang bersifat simbolik namun tidak selalu diikuti oleh praktik nyata. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pengembangan kerangka Encoding–Decoding Stuart Hall dengan memasukkan unsur ambivalensi dan paradoks dalam proses pemaknaan, yaitu kondisi ketika terjadi penerimaan simbolik tetapi penolakan dalam praktik, serta penerimaan secara pragmatis meskipun secara ideologis tidak sepenuhnya disetujui.
Dalam penelitian ini, penulis menyadari bahwa kajian mengenai pergulatan diskursus KB krama Bali pada masyarakat multikultur di Sukasada, Kabupaten Buleleng, masih terbatas pada ruang sosial dan konteks waktu tertentu serta lebih berfokus pada produksi wacana, otoritas simbolik, dan negosiasi identitas di tingkat lokal. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya mengembangkan pendekatan yang lebih genealogis dan lintas institusional guna menelusuri relasi antara negara, kebijakan kependudukan, institusi adat, dan otoritas keagamaan dalam proses produksi, legitimasi, serta normalisasi wacana KB krama Bali dalam jaringan kuasa yang lebih luas.


UNIVERSITAS UDAYANA